Berdamai dengan Covid 19, Siapa yang Diuntungkan?

Oleh: Nur Haya S.S (pemerhati masalah social)

Berganti hari demi hari, bulan demi bulan wabah pandemik covid -19 di negeri indonesia masih berada diujung yang mengkhawatirkan dan terlihat tak kunjung berakhir. Bahkan menampakkan kondisi makin parah dengan bertambah terus pasien corona. Semua kejadian ini terjadi bukan tanpa sebab melainkan dari negara, penangganannya begitu lamban. Solusinya yang berubah-berubah dan tidak efektif. Terbukti, semua solusi yang ditawarkan gagal dalam menghentikan laju penyebaran wabah corona. Dari himbuan social distancing, darurat sipil, dan PSBB (pembatasan social berskala besar) tapi hingga hari ini covid 19 masih tak ada tanda-tanda berakhir.

Terbaru, Presiden RI mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan dan membingungkan. Dilansir dari akun twitter pribadinya @jokowi. Ia meminta agar masyarakat hidup berdamai dengan covid 19, sebagaimana yang dinyatakan “sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan covid-19 untuk beberapa waktu ke depan”kamis(7/5). Statement pak jokowi itu pun lantas menjadi sorotan di media sosial, sebab hal itu berbeda dengan apa yang disampaikan di pertemuan virtual KTT G20 pada maret lalu. Kala itu, pak jokowi mengajak setiap negara dalam G20 terdepan melawan covid-19 terutama aktif memimpin upaya menemukan anti virus dan obat covid-19. Jelas kala itu, pak jokowi mendorong untuk berperang melawan corona (CNN Indonesia).

Menyikapi perbedaan diksi dari kata lawan ke damai dalam menanggani covid 19. Pengamat komunikasi politik, Kunto Adi Wibowo, menilai diksi yang digunakan Pak Jokowi memang kerap cenderung membingungkan masyarakat. Akhirnya,diksi itu disiratkan dalam kebijakan pemerintahan yang terkesan tak seirama. Beliau juga memberi saran agar pak jokowi dan jajarannnya mengunakan bahasa komunikasi yang lugas sehingga tidak merepotkan masyarakat di situasi krisis seperti hari ini (CNN Indonesia).

Tapi ungkapan pak jokowi, berdamai dengan covid 19 yang menuai kontroversi ini, sebenernya adalah eksit strategi sistem kapitalisme dunia yang dipopulerkan dengan istilah “ New Normal Life”. Sebab kegagalan mereka dalam memutus mata rantai penyebaran covid 19 menjadikan persoalan kapitalistik makin Amburadul terutama dibidang kesehatan, ekonomi, dan pemerintahan. “New Normal Life” dicanangkan United Nation,dalam artikel tertanggal 27April 2020 pada lamanya bertajuk “ A new Normal : UN lays out roadmap to lift economies and save jobs after covid-19”. Di nyatakan “ kondisi normal lama tidak akan pernah kembali, sehingga pemerintah harus bertindak menciptakan ekonomi baru dan menyelamatkan pekerjaan yang lebih banyak.

Siapa yang diuntungkan?

Apabila diteliti solusi berdamai dengan covid-19 yang telah disuguhkan oleh sistem kapitalisme, yang diambil negeri ini sebagai kebijakan. Nampak tujuaan dari konsep tersebut tak lain untuk menciptakan kembali ekonomi dan tatanan hidup baru setelah mengalami peradaban yang rendah akibat dampak wabah corona. Sifatnya sebagai konsep kapitalistik tentu semua hanya bermuatan nilai materi, kepentingan ekonomi dan korporasi mendominasi dalam konsep tersebut. Bahkan tidak menjadi masalah jutaan nyawa orang jadi taruhannya, sungguh ngeri. Jelas disini tujuannya bukan untuk kemashlatan bersama yakni menyelamatkan rakyat dari ganasnya wabah pandemic. Tentu saat berlakunya kebijakan ini tidak akan ada keuntungan berpihak ke rakyat.

Parahnya lagi, New Normal Life atau berdamai dengan covid-19 juga sama dengan herd immunity. Karena konsep tersebut jika berlaku, maka seleksi alam akan terjadi, yang kuat bertahan dan lemah akan mati, rakyat berperang sampai mati. Begitupun hal yang sama terjadi jika herd immunity diberlakukan. Padahal hal itu sudah ditolak oleh rakyat dengan dalih bukan solusi pandemic corona. Jika rezim RI tetap kekeh mengambil langkah ini, terbuktilah bahwa rezim hari ini tidak berada diposisi peduli pada rakyat melainkan hanya peduli kepentingan ekonomi dan kepentingan korporasi. Pasalnya setiap kebijakan yang dikeluarkan baik di masa wabah covid-19 atau tidak. Sejatinya menyelamatkan ekonomi saja, bukan memutus mata rantai covid 19, atau menyelamatkan rakyat dari jeretan wabah atau mengayomi rakyat dengan adil. Bahkan setiap kebijakannya terkesan berlepas dari tanggungjawabnya sebagai pemimpin.

Dari awal masuknya virus corona, pemimpin sudah sangat terlihat tidak serius menanggani wabah dengan responnya yang begitu lamban serta kebijakan yang irkonsistensi dan berubah-ubah. Akibat nya makin parah dan ganas lah wabah covid 19 negeri ini. Dokter pun yang berada digaris depan melawan virus corona harus siap lelah sebab banyaknya pasien corona. namun pemerintah dengan mudah mempermainkan berbagai kebijakan dan tidak menghargai setiap kelelahan dokter. Tak mau berkorban untuk menolong rakyat, lebih memilih melancarkan proyek pembangunan ibukota baru. Tidak turut membantu rakyat yang kena dampak corona tapi memilih mengsahkan uu minerba yang jelas akan menjajah negeri dan menzholimi rakyat.

Demikian lah New Normal Life bukanlah konsep sistem islam juga tidak ada berkaitan dengan kebangkitan islam. melainkan konsep ini adalah konsep sistem kapitalis yang jelas rusak dan kufur. Tiada lain misi setiap konsepnya untuk mempertahankan eksistensinya dalam hegemoni negeri-negeri muslim juga menyesatkan umat muslim untuk tidak kembali pada deen(islam). Segala kerusakan dan kezholiman tidak akan pernah didapatkan jika berada didalam naungan sistem islam termasuk tidak akan dibiarkan lama wabah pandemic menyerang rakyat seperti saat ini, sebab sangat berbeda dan bertentangan pandangan hidup sistem islam dengan sistem kapitalisme.

Solusi sistem islam kala wabah

Islam adalah agama sempurna dan satu-satunya aturan yan benar,yang mengatur segala perkara hidup. Khususnya masalah wabah pandemic. Berangkat dari sirah, dalam negara islam pun pernah menghadapi wabah yang cukup ganas . Negara pun mengambil solusi dengan aturan yang berasal dari Alquran yakni tuntunan islam dalam menghadapi wabah. Aturan-aturan itu antara lain adalah:

Negara menelusuri wilayah sumber kemunculan virus ini. Kemudian menutup segala akses yang bisa membuat penyebaran hpenyakit meluas (lockdown). Sebagaimana sabda Rasulullah saw& Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.& (HR. Bukhari)

Negara menjalankan kewajiban untuk melayani rakyat antara lain : 1.Menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobaan dan obat secara gratis untuk seluruh rakyat. 2. Mendirikan rumah sakit beserta laboratorium pengecekan dan pengobatan. 3.Menjamin ketersediaan alat pelindung diri (APD) yang memenuhi standar kesehatan untuk para tenaga medis.4. Negara menjamin pemenuhan kebutuhan pokok bagi warga yang terisolir agar tak terjadi panic buying (pembelian berlebihan akibat panik). 5.Negara menjaga akidah umat agar keimanan dan ketakwaan masyarakat tetap terwujud. 6. Negara memberikan edukasi dan informasi yang benar terkait virus ini pada masyarakat agar tak dianggap remeh

Wallahu’alam bishwab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *