Bentuk Satgas Toilet Berkualitas Untuk Destinasi Super Prioritas?

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam (Dosen dan Pengamat Politik)

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno akan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Toilet Nasional. Ini merupakan jawabannya atas pesan Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Panjdaitan yang ingin agar WC di tempat wisata dibenahi. Kepada media, Sandiaga mengatakan, program Satgas Toilet Nasional ini akan dia kerjakan dalam setahun ke depan. Dalam pelaksanaannya ia akan melibatkan berbagai pihak, termasuk pentahelix pariwisata yaitu akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media.

Langkah ini ia ambil usai melakukan sejumlah kunjungan ke destinasi top di Indonesia. Ia pun mengakui, kualitas toilet di tempat wisata masih jauh dari standar. Salah satunya, pengalamannya ketika mampir ke Adian Nalambok di sekitar Danau Toba.Melihat hal itu, Sandiaga Uno mengaku langsung berkoordinasi dengan sejumlah pihak agar mereka merenovasi toiletnya. Akhirnya, semua pihak sepakat untuk membenahi toilet dalam 3 bulan.

Contoh lain ketika ia bertamu ke Pantai Kuta di Badung, Bali. Saat itu ia melihat langsung hasil revitalisasi toilet di sana yang sudah sesuai standar. Nantinya, Satgas Toilet Nasional ini juga diminta untuk memperhatikan budaya dan kearifan lokal masyarakat. Ini terkait dengan cara penggunaan toilet yang bisa jadi berbeda-beda di setiap daerah. Sandi menegaskan ada 5 destinasi super prioritas  kelas dunia dan harus menghadirkan fasilitas yang juga kelas dunia juga. (gelora.co.10/2021)

Mungkin banyak yang berfikir ada-ada saja tugas para penguasa ini. Mulai dari tanam singkong, ternak bebek hingga toilet pun harus punya satgas. Tetapi apakah ada yang salah dalam semua program-program tersebut? Sebenarnya tidak, hanya kurang elegan saja kerjanya untuk sekelas menteri. Jika ternak bebek saja diurusi Presiden, lalu apa prestasi para peternak atau Dinas Peternakan? Jika singkong juga diembat Menhan, lalu siapa yang menjaga keamanan dalam negeri dari gangguan luar? Seterusnya, jika toilet harus diurusi Menparekraf, lalu dinas Kebersihan dan tata kota tugasnya ngapain lagi? Semua kerja harusnya sesuai tupoksi bukan?

Untuk kasus toilet ini perlu dikiriritisi. Karena kelihatannya bukan toilet sembarang toilet. Juga bukan sekedar program pembenahan toilet. Berikut beberapa poin yang dapat dikrtisi terkait program toilet tersebut.

Pertama, ide pembentukan satgas pembangunan WC/toilet adalah pesanan dari Merves LBP. Dan usulan itu menyasar tempat wisata. Inilah kelihatannya program awal Sandiaga Uno sebagai Menparekraf. Apakah membenahi WC merupakan perbuatan yang salah? Tentu tidak. Sangat baik karena merupakan bagian dari kepedulian terhadap kebersihan. Hanya saja, kenapa harus khusus di tempat wisata saja? Coba program pembenahan toilet itu untuk seluruh Indonesia dengan semua kategori tempat yang memerlukan perhatian kebersihan. Atau bila perlu membangun toilet-toilet yang layak di beberapa titik yang dianggap perlu. Bagus bukan?

Kedua, Progam WC tersebut akan dikerjakan selama setahun ke depan dan melibatkan komponen pentahelix pariwisata yaitu akademisi, bisnis, pemerintah , dan media. Wow! Seperti membangun gedung pencakar langit saja! Tetapi wajarlah, karena yang ingin dibangun adalah fasilitas berkualitas dan  tempat-tempat wisata superior alias world class. Artinya, bukan murni semata-mata untuk dinikmati rakyat yang kesulitan toilet. Tetapi mereka yang berduit dan mampu berkunjung ke tempat wisata superior.

Ketiga, melihat program toilet berkualitas sampai melibatkan satgas tidaklah sembarangan. Ada bau proyek kapitalisme disana yang melibatkan para pebisnis. Tentu saja pemerintah sebagai regulator harus menjamin keberlangsungan proyek ini. Who knows, jika toilet nantinya akan jadi mega proyek. Selain itu, program revitalisasi toilet berkualitas untuk wisata super prioritas hanyalah untuk para penikmat wisata kelas kakap. Dari pemodal untuk konglomerat! Pemerintah hanya berfungsi sebagai tameng penjamin keserakahan para pemilik modal dan konglomerat saja. Lalu toilet rakyat? Bangun dewe-dewe dong! Masa diurusin Menteri!

Setiap ruang yang menguntungkan bagi para kapitalis akan ditangkap sebagai lahan basah. Karena isi kepala mereka hanyalah proyek dan keuntungan. Pembangunan toilet mewah berkualitas oleh pengusaha, untuk tempat-tempat wisata kelas kakap hanya bagi yang mampu disentuh oleh para konglomerat. Semua fasilitas layak nan bergengsi hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang dan kelompok.

Dari segi kerja, urusan Menparekraf memang hanya mengurusi tempat wisata dan ekonomi kreatif. Sebagaimana pemahaman ideologi kapitalisme yang diadopsi negeri ini, bahwa pariwisata dibangun agar mandiri alias dikomersilkan. Bukan sebagai bagian fasilitas negara yang dibangun untuk dinikmati masyarakat dengan gratis. Justru membangun tempat wisata hanya mampu dilakukan oleh sponsor dan donatur. Bukankah itu bagian dari kapitalisasi?

Selama pemerintah dan sistem yang diadopsi adalah kapitalisme, maka program-program yang menguntungkan pemilik modal dan konglomerat akan terus berlanjut. Tanah rakyat dijual dan dijadikan lahan bisnis para kapital dan korporat untuk meraup untung sebesar-besarnya termasuk membangun banyak tempat wisata. Disamping bisnis, tentu saja membawa kerusakan budaya bagi penduduk negeri. Budaya asing yang liberal akan masuk dengan bebas tanpa filter. Selain tanah, moral juga hancur.

Tidak ada yang salah dengan memperhatikan kebersihan. Terkhusus kasus toilet. Sebagai negri muslim,  menjalankan ajaran Islam yang melatih ummatnya hidup bersih dan rapi harusnya terealisasi. Karena kebersihan bagian dari iman. Itulah simbol bersih dalam Islam. Sebelum Barat mengenal toilet, peradaban Islam telah mengajarkan manusia untuk tertib dan bersih bahkan dalam persolan buang hadas dan najis. Hingga posisi membangun toilet pun ada aturannya, yaitu tidak boleh menghadap kiblat. Tercatat dalam sejarah, camp-camp mujahidin Islam yang dibangun untuk perang dilengkapi dengan saluran pengaliran kotoran. Dan itu membuat tentara Barat kagum. Bersih dan tertib.

Dalam Islam, kebersihan dan fasilitasnya dibangun bukan untuk menyenangkan investor atau tourist. Melainkan rakyat yang berada di dalam negeri Islam. Sangat terbalik dengan program kapitalisme yang dirancang Menparekraf dan Merves bukan?

Persoalan kebersihan toilet di Indonesia faktanya bukan cuma di tempat wisata. Hampir di seluruh tempat seperti Pom Bensin, Pasar, tempat ibadah, juga tempat- tempat lainnya. Dan itu juga seharusnya diperhatikan oleh Menparekraf sebagai bagian dari pembenahan kebersihan, agar orang-orang asing melihat betapa bersihnya negri mayoritas muslim terbesar di dunia ini. Kalau sekarang jelas sekali, Baratlah yang mengamalkan konsep kebersihan Islam ditambah kesadaran masyarakat mereka perlunya kebersihan khususnya toilet. Hingga konon, toilet – toilet di negara Barat /negara maju sangat recomended banget!

Sejatinya kapitalisme hanya ingin memuaskan konglomerat dan pemodal. Sebab merekalah yang memodali bisnis- bisnis yang dibangun pemerintah. Sementara rakyat hanya boleh menonton saja. Tidaklah para penguasa negeri yang kaya raya ini mampu memperhatikan kebutuhan rakyat secara sungguh-sungguh. Oleh karena itu, hanya dengan menerapkan Islam secara kaffah, Indonesia akan bersih dan tertib bangunan toilet nya. Wallahuna-alam bissawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *