Benci Produk Luar Negeri, Sekadar Bualan Penguasa Sekuler

Oleh Khaulah (Aktivis BMI Kota Kupang)

 

“Bukan hanya cinta, tapi juga benci. Cinta barang produk kita. Benci barang luar negeri”. (Jokowi)

Gaung pernyataan benci produk asing telah lama disuarakan. Dari tahun ke tahun, dari satu pemimpin ke pemimpin berikutnya. Bahkan hingga parau suara, hingga dicap bualan belaka.

Teranyar, Presiden Jokowi meminta Kementerian Perdagangan lebih serius membantu mengembangkan produk-produk lokal. Harapannya agar masyarakat menjadi konsumen yang loyal terhadap produk-produk Indonesia. Tak berhenti di situ, beliau gaungkan benci produk luar negeri. (nasional.tempo.co). “Ajakan untuk cinta produk-produk Indonesia harus terus digaungkan. Gaungkan juga benci produk-produk dari luar negeri. Bukan hanya cinta tapi juga benci. Cinta barang produk kita. Benci barang luar negeri,” ujarnya.

Walaupun beberapa tahun belakangan, terjadi penurunan angka impor, namun menurut Ekonom Universitas Indonesia yang juga Direktur Eksekutif Next Policy, Fithra Faisal, Indonesia belum bisa sepenuhnya terlepas dari produk asing. Lihat saja data impor Indonesia saat ini. Bukan hanya mengimpor mesin, alat angkutan, bahan kimia, kain tenun, peralatan industri tetapi juga komoditas tertentu yaitu mulai dari gandum, beras, cabai, kedelai, hingga kopi. (kumparan.com).

Tentu rakyat dibuat geleng-geleng kepala. Pemimpin teguh menunjukkan wajah aslinya, ialah lain antara ucapan dan tindakan. Sejatinya, seruan benci produk luar negeri tak lain hanya retorika politik memikat hati rakyat. Karena pada faktanya impor terus berlangsung bahkan dalam jumlah besar.

Ini jelas menampakkan watak asli pemimpin negeri ini. Pemimpin yang tak memikirkan nasib rakyatnya. Pemimpin yang setia menyeru benci produk luar negeri namun tidak mengimbanginya dengan membuat peta jalan yang sungguh-sungguh untuk memandirikan kemampuan dalam negeri.

Pemimpin seperti inilah yang dilahirkan dari rahim sistem kapitalisme sekuler. Mereka mana mau membuat peta jalan memandirikan negeri, toh sudah berkawan karib pun membebek pada asing. Apalagi sejak 1995 negeri ini sudah bergabung dengan Agreement on Agriculture (AoA) World Trade Organization (WTO) dimana sektor pertanian berada dalam cengkeraman negara maju. Maka tampak hari ini tatkala produksi padi petani mengalami lonjakan, pemerintah berencana mengimpor sejuta ton beras.

Hal ini menegaskan kepada kita bahwa seruan benci produk luar negeri sebatas retorika penguasa hari ini. Seruan itu tak lebih hanyalah penarik simpati publik. Pun membuka mata kita akan terikatnya negeri kita sebagai negara berkembang, negara pembebek terhadap negara-negara maju.

Sejatinya, masalah utama terjadinya impor adalah kurangnya pasokan barang dalam negeri. Kekurangan ini dinilai hadir karena dua faktor, yaitu produksinya kurang dan tak mampu memproduksi sendiri. Mana bisa memproduksi sendiri, toh dananya saja tak ada. Sehingga, bahan mentah yang melimpah ruah di negeri ini justru diekspor, dan mengimpor barang jadinya.

Lantas, bagaimana caranya sehingga negeri ini bisa terlepas dari jeratan impor?
Sejatinya, satu-satunya jalan kesembuhan dari impor adalah dengan memberlakukan syariat secara kafah. Ya, butuh sebuah negara adidaya penerap syariat Islam secara kafah. Negara pelindung dan menjadi perisai agar negara penjajah tak menguasai negeri-negeri kaum muslim.

Negara adidaya ini (khilafah) akan melakukan pengurusan sebaik mungkin untuk seluruh rakyatnya. Entah dengan menggelontorkan dana mendukung segala bentuk pengembangan produk dalam negeri atau selalu berlandaskan akidah Islam tatkala bekerja sama dengan negara asing. Sehingga, negara tentu saja menolak tekanan global perdagangan bebas.

Dalam negara khilafah, terdapat departemen industri atau direktorat perindustrian. Direktorat ini yang akan menangani seluruh urusan industri entah industri berat seperti industri mesin, industri bahan baku dan industri otomotif serta menangani industri ringan.

Negara khilafah penerap syariat Islam juga tentu melarang terjadinya curang, tipu muslihat, juga penimbunan. Inilah salah satu jalan memberikan jaminan persaingan usaha yang sehat. Selain itu, dengan nihilnya penimbunan, rakyat tak akan dipusingkan dengan hilangnya salah satu komoditas dari pasar atau mahalnya harga komoditas tertentu.

Dengan demikian, seruan benci produk luar negeri hanyalah bualan belaka tatkala negara masih menerapkan aturan sekuralisme kapitalisme. Satu-satunya jalan agar seruan tersebut terealisasi ialah dengan diterapkannya syariat Islam secara kafah dalam bingkai khilafah Islamiyyah.

Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *