Benci Produk Luar Negeri, Impor Tetap Terjadi

Oleh Maryatiningsih (Ibu Rumah Tangga)

 

“Cintai produk dalam negeri ” slogan itu sering kita baca dan kita dengar, bahkan sering kita lihat iklan-iklan tersebut televise. Namun realita yang terjadi, dari barang yang terkecil hingga berbagai barang-barang hampir semua produk luar negeri. Produk Indonesia sangat jarang bahkan dari bahan pangan juga impor dari luar negri. Maka tidak heran dan tidak kaget dengan berbagai program dan usaha pemerintah yang katanya ingin memperbaiki produk lokal atau produk dalam negeri, supaya masyarakat lebih memilih produk-produk sendiri. Karena sampai saat ini belum terlihat adanya perubahan demi perubahan dari pemerintah mengenai hal itu.

Seolah-olah masyarakat hanya di beri janji-janji yang tidak pasti. Seperti apa yang telah di gaungkan oleh penguasa negeri ini, yang di dari TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Republik Indonesia meminta Kementerian Perdagangan serius membantu pengembangan produk-produk lokal. Sehingga, masyarakat menjadi konsumen loyal produk-produk Indonesia. Kalau perlu, kata Jokowi, gaungkan semboyan benci produk luar negeri. “Ajakan untuk cinta produk-produk Indonesia harus terus digaungkan. Gaungkan juga benci produk-produk dari luar negeri. Bukan hanya cinta tapi juga benci. Cinta barang produk kita. Benci barang luar negeri,” ujar Presiden dalam acara Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan 2021 di Istana Negara, Jakarta pada Kamis, 4 Maret 2021.

Kata Presiden , branding harus melekat agar masyarakat lebih mencintai produk lokal Indonesia dibanding produk luar negeri. “Karena penduduk kita lebih dari 270 juta jiwa. Ini harusnya menjadi konsumen paling loyal untuk produk-produk kita sendiri. 270 juta jiwa itu pasar yang besar,” ujar Presiden. Untuk itu, lanjut dia, strategi yang tepat untuk mengembangkan pasar menjadi penting. Pusat perbelanjaan harus didorong untuk memberikan, ruang bagi produk-produk Indonesia, khususnya UMKM. “Seperti di mal itu, jangan sampai ruang depan diisi brand luar negeri. Mereka harus digeser ke tempat yang tidak strategis. Tempat strategis, lokasi baik berikan ruang untuk brand lokal,” ujar Presiden .Presiden meminta UMKM dibantu agar juga bisa ekspor dalam jumlah besar. “Saat ini 90 persen pelaku ekspor adalah UMKM, tapi kontribusinya hanya 13 persen. Artinya kapasitasnya perlu ditambah, perlu diperbesar,” tuturnya.

Akan sangat sulit untuk mewujudkan semua itu jika negri ini masih membebek dengan negeri asing, bahkan kartu As negara ini dipegang oleh mereka. Maka apapun yang pemerintah lakukan harus ada persetujuan dari mereka. negara ini akan terus tergantung dengan mereka. Belum lagi dengan sistem yang sekarang di adopsi dimana semua akan lebih mementingkan keuntungan materi yang banyak diatas dari segalanya di banding mementingkan kepentingan rakyat.

Selama akar dari masalah ini belum di perbaiki ataupun di ganti dengan yang sahih maka akan tetap dalam kondisi negara yang banyak masalah dari berbagai hal. Perubahan apapun hanya semu belaka dan tidak bertahan lama, juga hanya menguntungkan sebagian orang saja, masyarakat tetap tidak sejahtera dan selalu dalam kesengsaraan.

Kita bisa lihat apakah akan ada perubahan kedepannya jika semua upaya pemerintah di realisasikan tanpa merubah sistem yang sudah rusak dengan sistem Islam kafah yang jelas sahih. Jika mereka para pejabat apapun para intelek mampu membedakan dan membandingkan dimasa kekhilafahan dengan masa sekarang maka, sangat jauh berbeda dimana masa kejayaan Islam sangat sejarahtera dan semuanya ada solusinya untuk menangani berbagai persoalan umat.

Maka sudah saatnya negeri ini bangkit dan kembali kepada sistem yang pasti yang jelas yang semuanya aturan dan sumbernya bukan buatan dari manusia yang lemah dan juga terbatas, tetapi semua sumber dan solusi datangnya dari Allah Swt.
Wallohu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *