Bencana Datang Silih Berganti, Saatnya Islam Menjadi Solusi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Penulis : Sri Indrianti (Pemerhati Sosial dan Generasi)

 

Tak terasa tahun 2021 mendekati akhir. Berbagai peristiwa pun telah terjadi di negeri ini sepanjang tahun 2021. Hingga penghujung tahun 2021 pandemi Covid 19 belum benar-benar hengkang dari negeri ini. Otomatis masyarakat harus tetap waspada dan taat protokol kesehatan.

Bencana alam pun datang silih berganti menerjang berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari bencana tektonik geologi sampai dengan bencana hidrometeorologi.
Dikutip dari okezone.com (10/12) BNPB melaporkan sepanjang 1 Januari hingga 9 Desember 2021, tercatat 2.796 bencana alam telah terjadi di Indonesia. Mayoritas bencana alam yang terjadi adalah bencana banjir kemudian disusul cuaca ekstrem dan tanah longsor. Artinya mayoritas bencana alam di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi.

Indonesia menjadi negara yang rawan terjadi bencana alam baik bencana tektonik geologi maupun bencana hidrometeorologi sebab secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di antara lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.
Pergerakan lempeng inilah yang menyebabkan terjadinya berbagai bencana alam tektonik geologi seperti gempa bumi, tsunami, dan erupsi gunung berapi. Sedangkan banyaknya bencana hidrometeorologi disebabkan Indonesia terletak pada garis khatulistiwa yang sering diterpa El Nino atau La Nina.

Namun, di sisi lain letak geografis Indonesia yang menyebabkan rawan terjadinya bencana tersebut ternyata memiliki manfaat. Yakni Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Mulai dari berbagai barang tambang yang tersimpan di perut bumi juga wilayah yang subur. Sehingga tak salah kiranya sebutan zamrud khatulistiwa disematkan untuk Indonesia.

Selain letak geografis yang berpotensi menimbulkan berbagai bencana alam, ternyata bencana tersebut juga dipicu oleh ulah manusia. Menjamurnya pemukiman penduduk dan berdirinya berbagai tempat industri merupakan salah satu penyebab terjadinya bencana alam. Sebab lahan telah beralih fungsi tanpa memperhatikan keseimbangan tata kota. Sehingga proses bencana alam semakin cepat terjadi.

Kondisi Indonesia yang memang rawan terjadi bencana alam harus disikapi pemerintah dengan bijak dan solutif. Pemerintah tak bisa menjadikan letak geografis Indonesia yang memang rawan bencana sebagai alasan untuk abai dan kendor dengan mitigasi bencana. Sebab apapun yang terjadi di wilayah kepemimpinannya menjadi tanggung jawab penguasa.

Pemerintah harus betul-betul memetakan wilayah-wilayah yang rawan bencana. Jika memang wilayah tersebut tidak bisa dijadikan pemukiman karena kondisi yang tidak aman maka wilayah harus dikosongkan dan penduduk diberikan tempat tinggal yang aman. Pemerintah juga harus menentukan apa saja yang wajib dilakukan supaya saat bencana terjadi kondisi sudah siap dan pemerintah tanggap terhadap mitigasi bencana.

Tindakan edukasi secara persuasif ke masyarakat juga sangat penting dilakukan. Hal ini menyebabkan masyarakat tidak buta sama sekali terhadap bencana alam. Sehingga masyarakat tidak gagap perilaku saat bencana alam terjadi.

Pengaturan tata kota harus senantiasa dilakukan supaya bencana alam karena ulah manusia yang serakah tidak banyak terjadi lagi. Pemerintah jangan asal memberikan izin kepada para pengusaha untuk mengubah alih fungsi lahan. Sistem kapitalisme lah yang memicu pemerintah hanya memikirkan keuntungan secara materiil dengan mengabaikan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Akibatnya banyak masyarakat yang menderita karena bencana alam yang menimpanya, ditambah lagi pemerintah yang tidak sigap dan gagap melakukan mitigasi bencana.

Islam menempatkan penguasa sebagai penanggung jawab penuh yang melakukan mitigasi bencana. Karen memang hal ini merupakan wewenang penguasa yang mengurusi segala urusan rakyat yang dipimpinnya. Oleh sebab itu penguasa memiliki kewajiban untuk berupaya secara optimal melakukan berbagai hal untuk mencegah terjadinya bencana alam. Sehingga risiko terjadi bencana dapat berkurang.

Pada wilayah yang memang rawan terjadi bencana, maka upaya yang dikerahkan penguasa harus berlipat. Hal ini dilakukan agar masyarakat wilayah tersebut merasa aman dan nyaman.

Sayangnya, penguasa dalam sistem kapitalisme dalam mengeluarkan kebijakan sama sekali tidak berpihak pada rakyat. Seringkali terjadi saat bencana alam, pemerintah seakan gagap dan kurang sigap melakukan mitigasi bencana. Sehingga timbul banyak korban karena terlambat penanganan.

Hanya negara yang berlandaskan Islam dalam yang akan berhasil melakukan mitigasi bencana dengan sigap dan tanggap. Negara dengan segenap daya upaya dikerahkan secara optimal semuanya untuk kepentingan rakyat.

Terjadinya bencana yang silih berganti semestinya menjadikan penguasa dan para jajarannya berbenah diri. Sudahkah secara optimal mengurusi rakyat? Sudahkah kebijakan selama kepemimpinannya dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak?

Jangan sampai dengan banyaknya bencana yang terjadi malah semakin mengeraskan hati dan pikiran sehingga semakin otoriter dalam menetapkan kebijakan.

Wallahu a’lam bish showab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.