Bencana dan Kebutuhan Mitigasi

Oleh : Ummu Salimah (Pemerhati sosial)

 

Gempa, kejadian dahsyat yang selalu saja datang tiba-tiba, tanpa peringatan, menelan korban jiwa, bahkan banyak nyawa tak berdosa ikut menjadi korban “keganasannya”, menjelang datangnya bulan suci, kabar duka kembali mewarnai negeri dengan kejadian serupa.

Sebagaimana diberitakan baru-baru ini gempa kembali mengguncang sebagian wilayah Indonesia, tepatnya bagian Jawa Timur, seperti dilansir dari, JAKARTA, iNews.id, 11/04/2021.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan pemerintah daerah segera melakukan langkah tanggap darurat setelah terjadi gempa bumi 6,1M di Jawa Timur (jatim) pada Sabtu (10/4/2021). Instruksi yang sama juga diberikan Jokowi kepada kementerian serta lembaga negara terkait.

Hal itu disampaikan Jokowi dalam konferensi pers yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (11/4/2021).

“Saya sudah mendapatkan laporan dari Kepala BNPB mengenai terjadinya gempa bermagnitudo 6,1 yang terjadi di wilayah Jawa Timur pada hari Sabtu siang tanggal 10 April 2021. Dan saya juga tadi mendapatkan laporan juga bahwa terjadi gempa susulan pada pagi hari tadi,” katanya.

Kejadian ini tidak hanya menyisakan trauma bagi korban, namun tempat tinggal mereka juga sebagian besar rusak parah, luka ringan hingga berat, bahkan ada beberapa yang dikabarkan meninggal dunia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat delapan orang meninggal dan 1.189 bangunan rusak akibat gempa di Jawa Timur (Jatim). Selain itu, gempa bermagnitudo 6,1 yang terjadi pada Sabtu (10/4) merusak fasilitas umum di 150 titik.

“Perkembangan terkini penanganan pascagempa Jawa Timur, mencatat korban meninggal delapan orang, luka ringan 36 orang, dan luka sedang hingga berat sebanyak tiga orang,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dalam pernyataan resmi yang diterima wartawan di Jakarta, Ahad (11/4).
(REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, 11/04/2021).

Minimnya antisipasi bencana

Rentetan kejadian yang menimpa bumi pertiwi, seolah masih enggan meninggalkan negeri, kejadian yang selalu berulang seperti menyisakan misteri tanpa henti, mengapa keadaan ini masih saja terus terjadi, mungkinkah ini teguran dari ilahi? Sudah seharusnya antisipasi bencana menjadi salah satu prioritas negeri.

Berbagai bencana yang terus melanda negeri ini tentu tidak bisa kita anggap remeh begitu saja, karenanya dibutuhkan langkah-langkah khusus dan strategis dalam menghadapi bencana, bahkan sebelum terjadinya.

Pemerintah dalam hal ini tidak bisa hanya melakukan respon secara cepat dan reaktif ketika bencana telah melanda, namun dibutuhkan antisipasi sejak dini.

Karenanya, tidak salah jika publik berharap bahwa pemerintah mampu membentuk lembaga khusus dalam penanganan bencana sebagaimana disampaikan oleh Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera.

“Jika berbicara mengenai institusi, mesti ada lembaga yang diberikan tugas merespon, memikirkan sampai memitigasi bencana. Kita punya BNPB yang kewenangan dan payung hukum harus diperkuat, anggaran sampai sumber daya juga perlu terjamin ketersediaannya,” kata Mardani dalam akun twitternya @mardanialisera, Rabu, (13/4/2021).
(TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA, 13/04/2021)

Sebagai rakyat tentu kita berharap, bahwa negara tidak hanya membuat langkah tanggap darurat semata, namun dibutuhkan pengerahan seluruh kemampuan yang ada agar saat bencana alam terjadi, tidak menimbulkan mudharat yang besar bagi manusia.

Namun demikian, bisa kita fahami secara bersama bahwa salah satu yang belum dilakukan oleh sistem sekular yang diadopsi negeri ini adalah penggunaan mitigasi yang berbasis pada tekhnologi, sehingga deteksi dini bencana yang akan terjadi serta penyelamatan bagi warga dapat dilakukan sesegera mungkin.

Sehingga pada kenyataannya, hingga kini ketika terjadi bencana alam, masih saja banyak nyawa yang menjadi korban dari “amukan alam” tersebut, tentulah sangat disayangkan, apalagi hal ini belum mampu diatasi hingga kini, bahkan masih menjadi momok yang menakutkan bagi daerah-daerah tertentu yang rawan bencana.

Antisipasi dini membutuhkan peran sentral negara

Sangat berbeda dengan islam, sebagai agama yang ditutunkan oleh Allah swt yang merupakan rahmat bagi alam semesta, Islam sangat memperhatikan rakyatnya, individu per individu begitu pula masyarakat secara keseluruhan, dalam hal ini penanganan terhadap musibah.

Negara akan mengambil kebijakan yang tentunya komperehensif yang berdasarkan aqidah Islamiyah dengan prinsip pengaturannya secara keseluruhan didasarkan hanya pada syariat Islam semata, yang pada akhirnya ditujukan pada kemaslahatan rakyat.

Penanganan yang akan dilakukan secara langsung oleh negara meliputi sebelum terjadi bencana, saat kejadian dan pasca bencana .
Dalam hal penanganan sebelum bencana atau mitigasi bencana yaitu serangkaian upaya dalam rangaka mengurangi resiko bencana, berupa pembangunan fisik ataupun penyadaran terhadap masyarakat akan peningkatan kemampuan mereka menghadapi ancaman bencana, baik bersumber dari ulah manusia sendiri, alam secara langsung ataupun dari kedua-duanya.

Kegiatan berupa sarana fisik dapat dilakukan dengan membangun kanal, bendungan yang mampu memecah ombak, tanggul untuk menahan air, reboisasi atau penghijauan, memelihara aliran sungai, tata kota yang sesuai dengan amdal, termasuk pemeliharaan kebersihan bagi lingkungan yang ada.

Negara juga akan membentuk tim SAR secara khusus yang dibekali kemampuan teknis dan non teknis dalam penanganan bencana, tim ini juga akan dilengkapi peralatan khusus dan canggih berupa alat komunikasi, alat berat, begitupun dengan alat evakuasi bagi korban bencana.

Dengan demikian tim ini akan selalu siap dan bersedia diterjunkan pada daerah-daerah tempat bencana melanda, selain itu tim SAR ditugaskan untuk bergerak secara aktif melakukan edukasi kepada masyarakat hingga mereka memiliki kemampuan dalam mengantisipasi, menangani dan menyelamatkan diri dari bencana.

Sedangkan manajemen saat bencana, maka kegiatan yang dilakukan dalam rangka mengurangi jumlah korban dan kerugian akibat bencana, yakni evakuasi korban secepat-cepatnya, membuka segala akses jalan yang dibutuhkan, komunikasi kepada para korban, memblokade dan mengalihkan material bencana ke tempat yang tidak memiliki penduduk di dalamnya. Atau ke saluran lain yang sebelumnya telah disiapkan. Misal saat banjir melanda secara tiba-tiba.

Selain itu, yang sangat penting dilakukan adalah membentuk dapur umum serta posko pelayanan bagi kesehatan serta pembukaan akses jalan juga komunikasi dalam rangka memberikan kemudahan berkomunikasi dan evakuasi korban bencana.

Namun, berhasil atau tidaknya segala upaya diatas, semua bergantung pada kegiatan pra bencana, sedangkan pasca bencana kegiatan ditujukan pada korban dengan memberikan pelayanan yang baik selama masa pengungsian, melakukan pemulihan psikis agar tidak menimbulkan depresi dan stres maupun dampak psikologis yang lain terhadap mereka.

Menyediakan kebutuhan penting mereka seperti makanan, pakaian, tempat beristirahat juga obat-obatan, disisi lain yang tidak kalah penting adalah pelayanan medis. Recovery mental juga bisa dilakukan terhadap mereka dengan memberikan tausiyah atau ceramah dalam rangka mengokohkan keyakinan mereka dan sikap para korban terhadap kejadian yang menimpa.

Negara juga akan merecovery lingkungan tempat tinggal mereka setelah bencana, termasuk di dalamnya kantor pemerintahan, rumah ibadah, rumah sakit, pasar dan lain-lain. Sehingga masyarakat dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari mereka seperti sebelum terjadinya bencana alam.

Demikian juga yang akan dilakukan negara dalam hal ini khilafah adalah jika diperlukan relokasi warga terdampak ke daerah yang lain, yang dipastikan lebih aman dan kondusif bagi mereka, karenanya khalifah sebagai kepala negara akan menerjunkan tim yang ahli di bidangnya, untuk meneliti serta mengkaji tempat terbaik bagi korban, setelahnya akan disampaikan kepada khalifah pilihan terbaik yang ada.

Nantinya khalifah akan melakukan tindak lanjut dengan segera dan secara profesional sebagimana layaknya seorang kepala negara dalam mengurusi urusan rakyat yang menjadi tanggungannya.

Demikianlah, hanya kembali kepada aturan Allah swt yang sempurna sajalah, maka ancaman bahaya dengan rentetan kejadian bencana yang terjadi terus menerus akan dapat kita akhiri.

Wallaahu a’lam bishshowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *