Belajar dari Zaid bin Tsabit

Banyak yang sering mendengar sahabat ini, namun kali ini mari melihat dari sudut pandang yang berbeda. Zaid bin Tsabit adalah sahabat Anshar dari Keluarga Najjar yang hidupnya sudah penuh prestasi sejak masa mudanya. Beliau model bagi Millenials seperti kita untuk jadi yang terbaik.

Di remajanya, Zaid sudah dilihat Rasulullah sebagai anak muda multitalenta. Kemampuan bicaranya, daya ingatnya, dan kekuatan hafalannya membuatnya jadi sekretaris Rasulullah di usia belasan tahun. Sahabat senior juga mengakui kecerdasannya.

Zaid memberikan kita inspirasi, bahwa anak muda punya peluang jadi bintang tanpa harus menghabiskan umurnya dulu. Menjadi tua itu pasti, namun jadi dewasa itu pilihan. Dan Zaid berpikiran dewasa di antara teman-temannya.

Di antara hal-hal yang membuat Zaid cemerlang adalah kejeniusannya mempelajari bahasa kaum lain dalam waktu yang singkat. Rasulullah mulai mengetahuinya sejak suatu kali Zaid diajak bertemu beliau dan mentasmi’ beberapa surat Al Qur’an. Rasulullah nampak senang dan takjub, kemudian memerintahkan Zaid untuk mempelajari bahasa Yahudi.

Dengan menakjubkan, hanya 15 hari saja Zaid sudah mampu memahami bahasa kitab Yahudi. Sejak itulah ia selalu jadi sekretaris Rasulullah dalam urusan diplomasi dengan orang-orang yahudi di Madinah. Sejak itu pula, banyak wahyu yang turun dan Rasulullah memanggil Zaid untuk menuliskannya.

Di hari-hari Kekhalifahan Umar bin Khattab, Zaid seringkali diangkat jadi pemimpin Madinah jika Umar sedang berhaji ke Makkah. Beliau pula dideklarasikan menjadi satu dari 6 ahli fatwa dari kalangan Sahabat. Beliau yang paling muda di antara mereka.

Selain kecerdasannya di ilmu Al Qur’an dan bahasa, Zaid juga menjadi ahlinya ilmu waris. Muhammad bin Sirin berkata, “Zaid bin Tsabit mengalahkan umat manusia dalam dua hal besar; Al Qur’an dan ilmu waris.”

Namun yang paling fenomenal dari prestasi Zaid bin Tsabit adalah momentum ketika beliau diangkat oleh Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai ketua panitia pengumpulan Al Qur’an. Semua sahabat setuju ketika nama Zaid disebut, kemudian mereka berkata, “Wahai Zaid, engkau adalah anak muda yang cerdas dan kami tak meragukanmu. Engkaulah penulis wahyu Rasulullah, maka carilah kumpulkanlah semua tentang Al Qur’an.”
.
Zaid wafat di era Kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan. Orang-orang sangat kehilangannya, apalagi para pecinta ilmu dan penggali hikmah. Ulama sekaliber Ibnu Abbas saja sampai berkata di hari dimakamkannya Zaid, “hari ini, telah dimakamkan ilmu yang banyak.” [] (GenSha)
.
Referensi :
1. سير أعلام النبلاء الجزء الثاني، للامام الذهبي
2. كتاب زيد بن ثابت للمؤلف صفوان عدنان داوودي

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *