Belajar dari Sejarah Srebrenica

Oleh: Muji Budi Lestari (aktivis muslimah)

Tak banyak yang tahu pada tanggal 11 Juli adalah hari yang kelam bagi umat Islam khususnya yang berada di wilayah Srebrenica – Bosnia. “Semua yang ingin pergi akan diangkut, besar dan kecil, muda dan tua. Jangan takut … Tidak ada yang akan membahayakanmu.” lelaki gagah bernama Ratko Mladic, komandan unit Serbia Bosnia, berdiri tegak menenangkan massa.

Siapa nyana, di balik bibir manisnya, bersama pemimpin politik Serbia, Radovan Karadzic, ia menjadi aktor kunci dalam sejarah perang pembersihan etnik yang menyebabkan setidaknya 7 ribu orang tewas hanya dalam waktu 5 hari. BBC.com (22/11/17) menyebut tindakannya ini sebagai eksekusi massal paling kejam setelah kejahatan Nazi di Eropa pada Perang Dunia.

Tahun 1995, mahkamah kejahatan perang PBB mendakwa Mladic melakukan dua genosida berupa pembantaian di Srebenica dan pengepungan Sarajevo yang dilakukan tahun 1992. Namun Mladic tetap melenggang dengan bebas tanpa merasa berdosa. Sebab ia didukung oleh Presiden Yugoslavia ketika itu, yaitu Slobodan Milosevic.

Ya, begitulah watak penjajah. Punya banyak jaringan kekuasaan untuk menghalalkan segala cara demi menguasai bangsa-bangsa. Maka jangan tertipu olehnya dan jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dari sejarah kita belajar, satu benang merah antara pengalaman, perlawanan, pahit getirnya kehidupan, serta manisnya kemenangan setelah letih berjuang.

Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh imam (pemimpin) adalah junnah (perisai), orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia bertanggungjawab atasnya” (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Benarlah Sabda sang Nabi, hadits itu masih relevan dan terbukti hingga kini. Di mana-mana ketika tak memiliki junnah akan senantiasa menderita umat Islam ini. Perisai penjaga umat, hanya angan-angan dalam malam yang pekat. Lembar-lembar sejarah telah mencatat. Betapa kedzaliman silih berganti menimpa umat.

Di China, Palestina, Myanmar, India, Bangladesh, Bosnia Herzegovina, dan lainnya mereka kehilangan tempat. Untuk berlindung dan mencari selamat. Namun sayang seribu sayang, banyak pemimpin muslim yang khianat. Kezaliman terhadap umat Islam nyata terlihat, namun tak keluar dari lisan mereka walau hanya sekedar membela dalam pendapat.

Benarlah hadits Rasulullah ini. Kita sebenarnya belum punya pemimpin yang menaungi. Banyak kepala negara di berbagai negeri, namun tak satupun yang mampu melindungi. Sebab mereka bukanlah pemimpin sejati, melainkan hanya antek para penjajah yang tak punya hati. Membela yang benar mereka tak berani, sebab khawatir kalau-kalau jabatan mereka diambil alih.

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidhah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah al-ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab,“Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum” (HR Ibnu Majah).

Wahai kaum muslimin tidakkah terbuka mata kita dengan kejadian ini. Tidakkah kita tersadar dengan petaka yang masih terus terjadi. Musibah dan bencana datang silih berganti. Tak cukup istighfar dan dzikir bersama kita anggap sebagai sesuatu urgensi. Kita mesti kembali pada syariat undang-undang sang Ilahi. Tak mungkin lahir sosok pemimpin yang Rabbani jika sistem pemerintahan kita masih tirani.

Mari, segera kita lakukan taubat nashuha wahai seluruh penduduk negeri dengan meninggalkan sistem kapitalisme yang batil haqiqi. Hanya satu solusi sejati, yaitu syariat Islam kaffah tanpa kecuali. Juga dengan sistem pemerintahannya, khilafah warisan Nabi. Satu-satunya sistem pemerintahan yang akan mengayomi. Bukan hanya penduduk muslimnya, tetapi seluruh rakyat muslim maupun nonmuslim bahkan hewan pun akan menjadi prioritas penyelamatan di bumi.

Jangan pernah terbersit ragu dalam hati, sebab Allah punya janji: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” ( Al A’raf: 96)
Jangan tertipu oleh para antek para penjajah, jika tak ingin negeri kita seperti Srebrenica![]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *