Belajar dari Kejadian Srebrenica

Oleh : Diyanah (Aktivis Dakwah)

“Semua yang ingin pergi akan diangkut, besar dan kecil, muda dan tua. Jangan takut! Tidak ada yang akan membahayakanmu.”

Pada tanggal 11 Juli 1995, unit-unit pasukan Serbia Bosnia merebut kota Srebrenica di Bosnia-Herzegovina. Dalam waktu kurang dari dua minggu, pasukan mereka secara sistematis membunuh lebih dari 8.000 Bosniaks (umat Muslim Bosnia) – pembunuhan massal terburuk di tanah Eropa sejak akhir Perang Dunia Kedua. Ratko Mladic, komandan unit Serbia Bosnia, mengatakan kepada warga sipil yang ketakutan untuk tidak takut ketika pasukannya memulai pembantaian. Mereka tidak berhenti selama 10 hari.

Pasukan penjaga perdamaian PBB yang memegang senjata ringan, yang ada di wilayah yang dinyatakan sebagai “daerah aman” PBB, tidak melakukan apa-apa ketika kekerasan berkobar di sekitar mereka. Mantan Sekretaris Jenderal Kofi Annan kemudian menyatakan: “Tragedi Srebrenica akan selamanya menghantui sejarah PBB.” (Sumber: BBC News 11/07/2020).

Beberapa waktu yang lalu sejumlah penduduk Umat Muslim Bosnia menandai peringatan 25 tahun pembantaian Srebrenica pada Sabtu (11/7) waktu setempat, di tengah pandemi virus corona Covid-19.

Dua puluh lima (25) tahun yang lalu ribuan nyawa kaum muslimin dibantai habis-habisan oleh Si Jagal Bosnia yakni Ratko Mladic di bawah Pimpinan Politik Serbia. Bagi Mladic, perang ini ia anggap sebagai upaya untuk meneguhkan keberadaan negara Serbia. Ia melihat perang sebagai balas dendam terhadap pendudukan Muslim Turki selama lima abad. Kejadian itu telah menewaskan 8.000 pria dan anak lelaki muslim.

Mereka dibantai dalam waktu empat hari dan dikubur di kuburan massal yang bahkan belum digali. Beberapa dari mereka yang dewasa dipaksa untuk menyaksikan sendiri bagaimana anak-anaknya dibunuh hidup-hidup. Mereka dipisahkan dari ibu, istri, dan anak perempuan mereka yang berjumlah puluhan ribu orang yang disuir jauh dalam wilayah Bosnia.

Peristiwa ini juga merenggut kehormatan wanita Muslimah. Lebih dari 50.000 perempuan dan anak perempuan secara sistematis diperkosa di kamp-kamp, hotel-hotel, di rumah-rumah tempat tinggal mereka, bahkan di tempat umum oleh para militer Serbia. Demikian pula saat itu banyak terjadi kemiskinan dan penyiksaan. Salah satu korban saksi mata mengatakan bahwa di sepanjang jalan banyak ditemukan aliran darah serta mayat-mayat yang bergelimpangan.

Kejadian tersebut merupakan kejadian terbengis pertama di Eropa setelah terjadinya perang dunia ke-dua. Tetapi anehnya dunia Internasional seperti negara Amerika, Inggris, Perancis beserta dengan jajaran organisasi yang dibentuknya, utamanya PBB hanya menonton diam saja bahkan seperti berpura-pura tidak tahu terhadap kondisi yang memilukan ini. Padahal ini merupakan insiden yang disebut sebagai eksekusi massal paling kejam setelah kejahatan Nazi di Eropa pada Perang Dunia.

Tempat yang dikatakan sebagai wilayah aman yang telah dijajikan oleh PBB sebagai tempat perlindungan nampaknya pun tidak bisa memberikan perlindungan terhadap kaum muslim saat itu. PBB bahkan ikut membantu Tentara Pasukan Serbia dengan menyediakan 3000 liter bensin untuk mengangkut para lealki muslim ke kuburan massal mereka. Tentara Pasukan Serbia menyerang kaum muslim yang berlindung di wilayah aman di daerah Potocari. Tragedi ini tentu menjadi bukti bahwa tidak adanya perlakuan adil PBB memberikan jaminan keamanan dan perlindungan kepada negara yang berpenduduk muslim. Bahkan PBB menjadi alat legitimasi kebengisan penjahat yang ingin memauskan nafsu kedengkiannya terhadap umat islam. Pembantaian seperti ini tidak hanya terjadi sekali melainkan terus menerus terjadi hingga saat ini seperti di Suriah, Myanmar, Afghanistan, Afrika, Thailand Selatan, Irak, Palestina, dan Yaman.

Kehinaan dan kenistaan seperti ini tidak akan berakhir bila kepemimpinan yang berlaku secara global adalah kepemimpinan yang menganut sistem ideologi kapitalisme. Sebab, ideologi ini hanya akan memuaskan dan melindungi para kapital yang memiliki kepentingan. Tentu tidak mengherankan bila perlindungan PBB tidak memberikan manfaat sedikitpun kepada kaum muslim di negara manapun, khususnya kaum muslim di Serbia saat itu.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita kaum muslimin untuk tidak lagi menaruh harapan perlindungan kepada Lembaga yang dilahirkan dari sistem kapitalisme. Sudah saatnya kita kembali kepada islam. Sesungguhnya islam memiliki perisai yang dapat memberi perlindungan serta jaminan keamanan bagi seluruh rakyatnya. Dalam islam khalifah akan mengarahkan departemen jihad untuk menyelamatkan kaum muslimin dari kebengisan kaum kafir.

Khalifah akan memberi sikap tegas terhadap adanya penyiksaan yang terjadi. Dan dari sikap tegas pemimpin inilah yang nantinya akan mengakhiri penderitaan yang dialami oleh kaum muslim.

Sebagaimana yang telah tertulis dalam sejarah seorang Khalifah al-Mu’tashim Billah yang mengirimkan pasukan untuk melindungi harga diri seorang muslimah yang dilecehkan oleh orang Romawi yang saat itu berada di kota Ammuriah. Ini adalah bentuk nyata bagaimana pemimpin muslim melindungi seluruh warganya meski hanya seorang perempuan saja.

Dengan demikian, dari kejadian ini hal yang dapat kita pelajari adalah bahwa kita tidak bisa lagi menaruh kepercayaan perlindungan kepada Lembaga-lembaga yang berada di bawah nanungan sistem kapitalisme. Dan satu-satunya cara agar kejadian yang memilukan dan bengis ini tidak terjadi secara berulang adalah dengan kembali kepada islam. Mari kita kembali kepada aturan islam yang bersumber dari pencipta alam semesta ini yakni Allah SWT. Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *