Bawang Putih, Komuditas permainan Kapitalis

Oleh : Eli yulyani (Ibu rumah tangga)

Lagi dan lagi, fenomena kenaikan harga bawang putih selalu terulang setiap tahunnya. Melonjaknya harga bawang putih kali ini, dikait kaitkan dengan virus corona yang viral dibicarakan, virus ini dituding menjadi penyebab kenaikan si bumbu dapur yang menjadi idola para ibu rumah tangga dan pengusaha kuliner. Karena ketakutan tertular virus yang satu ini, maka impor bawang putih dari Cina di hentikan.

Indonesia, dikenal sebagai negara agraris, yang seharusnya mampu menghasilkan bahan pangan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya, bahkan bisa menjadi eksportir pangan. Tapi kenyataannya Indonesia sangat ketergantungan dengan impor pangan, terutama dari Cina, bahkan untuk bawang putih saja, Indonesia mengimpor 87% sampai 90%. Kenaikan harga bawang putih di awal tahun 2020, menjadi hadiah untuk rakyat Indonesia, terutama bagi ibu rumah tangga dan pengusaha kuliner yang mau tidak mau, dipaksa menikmati kenaikan harga yang melambung tinggi.

Usut punya usut, ketersediaan bawang putih di Indonesia, diperkirakan masih sangat cukup hingga tiga bulan kedepan, hal tersebut disampaikan oleh Bapak mantan mentri Pertanian ( Yasrul Yasin ). Beliau menyatakan, yang menjadi penyebab kenaikan harga, karena ada kepanikan dikalangan distributor, yang mengantisipasi impor bawang putih dari Cina jika sampai dihentikan, yang kemudian mereka menimbunnya. Stok bawang putih kita masih 120.000 ton, dan akan panen raya di perkirakan 30.000 ton, sementara kebutuhan perbulan rakyat Indonesia 47.000 ton, jadi stok ini akan bisa bertahan sampai tiga bulan kedepan. (Detik finance.com).

Pemerintah mengambil langkah kebijakan impor sebagai solusi, untuk mengatasi ketersediaan pangan yang menipis, demi memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya, tapi benarkah demikian? Nyatanya, tidak ada jaminan untuk rakyat, pemerintah hanya fokus pada impornya saja, yang menguntungkan segelintir orang, para pengusaha dan penguasa yang dengan teganya, mengambil keuntungan dari kebutuhan pokok rakyatnya. Hal ini membuktikan, bahwa pemerintah hanya setengah hati dalam mengurus kebutuhan rakyat.

Sistem Kapitalisme dengan prinsipnya, mengambil keuntungan yang sebanyak banyaknya, dengan modal sekecil mungkin, menjadikan rakyatnya hanya sebagai konsumen yang akan menguntungkan para kapital. Negara hanya menjadi regulator, bukan sebagai pengatur dan pengurus kebutuhan rakyat. Bawang putih yang menjadi komuditas penting, seringkali dipermainkan harganya, karena tentunya akan membawa keuntungan pihak tertentu. Tidak ada solusi mendasar yang mampu menyeslesaikan permasalahan ini, karena solusi yang diambil pemerintah selalu melibatkan para Cukong yang akan mengambil manfaat dari situasi ini.

Islam mempunyai solusi yang sangat jelas dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakatnya, negara akan menjami ketersediaan komoditas yang termasuk kebutuhan masyarakat. Masyarakat akan mendapatkan kebutuhan pokok yang mudah dan murah, karena dalam Islam, negara adalah penanggung jawab atas kebutuhan rakyat, disamping itu negara akan memperhatikan betul cara memenuhi kebutuhan pangan, yang tentunya berkaitan pula dengan tatacara yang halal, zat yang terkandung bebas dari bahaya atau tidak, demikian juga cara pendistribusian. Islam melarang penimbunan dan permainan harga, sehingga tidak akan menghambat kelancaran distribusi. Negara menjamin secara keseluruhan, karena meyakini, kepengurusan umat akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt. Wallahu alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *