BARISAN PEMBELA SESAJEN

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Fastaghfiruilalloh

 

Sejarah selalu berulang, dengan pola yang sama dengan metode dan kemasan berbeda. Pada awalnya sesaji merupakan upaya setan untuk menyesatkan manusia dengan memberikan pengorbanan kepada yang di yakini mempunyai kekuatan agar terbebas dari malapetaka.

Kesadaran manusia akan kelemahan dirinya dalam menghadapi fenomena alam seperti erupsi, gempa bumi, atau tsunami di rubah menjadi suatu keyakinan bahwa tempat-tempat tersebut ada penunggunya yang berkuasa.

Kemudian manusia menyerupakan penunggu tempat-tempat tersebut dengan dirinya karena keterbatasan akalnya, sehingga memberikan sesuatu yang dia senangi, seperti ingkung, rokok, serta kopi, kepada sang ghaib penunggu tersebut. Siapa tahu dia suka.

Keterbatasan manusia bukan hanya terletak pada unsur jasmani saja yang lemah dalam menghadapi alam raya, tetapi akalnya, yang tak mampu menyibak misteri dibalik itu semua.

Sebab itu Allah Sang Maha Pencipta memberikan informasi tentang apa yang berada di luar jangkauan akal manusia. Tentang rahasia alam semesta. Serta bagaimana cara bersikap menghadapi keganasan alam raya.

Allah Swt menurunkan wahyu kepada para Rasul-Nya untuk memberi petunjuk kepada manusia agar hanya memohon perlindungan kepada-Nya, beserta cara memanfaatkan alam semesta untuk menunjang statusnya sebagai Khalifah di muka bumi.

Maka mengertilah manusia bahwa berhala-berhala dan ritual sesat bisikan setan termasuk di dalamnya sesaji merupakan adat yang sesat dan menyesatkan.

Zaman boleh berganti, berhala boleh pergi tapi iblis dan para setan telah berjanji untuk menyesatkan manusia dari jalan Ilahi.

Di zaman modern ini, sesaji tidak lagi semata tentang pemujaan dan korban demit penunggu gunung berapi. Bukan lagi sesaji berhala dan sesaji ruh halus. Zaman modern ini beralih menjadi sesaji politik, sesaji ideologi hingga sesaji kekuasaan.

Ketika ghirah kebangkitan syariat Islam mulai nampak kembali, maka para pemangku sekulerisme merasa perlu menjadikan pembelaan sesaji sebagai isu penting perlawanan terhadap kebangkitan syariat Islam.

Harapan mereka mendapat tambahan tenaga dari simpati publik yang masih percaya klenik dan tahayul agar turut serta dalam barisan penghalang penegakan syari’at Islam.

Ada yang membela untuk memberi sedekah binatang, tapi belum pernah ada binatang yang merokok.

Ada yang mengatakan sesaji adalah untuk menjaga keharmonisan dengan alam lain. Tapi Allah Maha Penguasa alam memerintahkan menjaga keharmonisan dunia bukan menjaga keharmonisan alam lain yang diluar kuasa manusia.

Ada yang mengatakan boleh selama niatnya bukan untuk sesembahan berhala, padahal syariat Islam menghukumi dhahirnya dan bukan batinnya termasuk niat.

Telah hadir para pembela sesaji. Mereka bersatu dalam satu barisan yaitu barisan pembela sesajen.
Barisan tempat bersatunya para pembela sesaji dengan satu tujuan menghadang syariat Ilahi.

Wallahu ta’ala a’lam bishawab.

Indonesia, 15 Januari 2022

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.