BANJIR KEMBALI MENERPA, DAMPAK KAPITALISME

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Wiji Lestari

 

Memasuki musim penghujan banyak berbagai daerah di Indonesia yang mengalami dampak bencana alam banjir dan tanah longsor. Hal ini menjadi PR bersama setiap tahunnya guna meminimalisir terjadinya bencana tersebut, serta mencari faktor penyebab utama bencana selain faktor alam.
.
Banjir bandang terjadi di wilayah Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, salah satu pemicunya adalah kerusakan kawasan hutan. Dengan kondisi tersebut, menurutnya perlu dilakukan reboisasi. (merdeka.com, 08/11/2021).

Banjir bandang juga terjadi di Kota Malang, Sungai Brantas meluap. Sedangkan di waktu yang bersamaan banjir bandang juga terjadi di Kota Batu pada Kamis (4/11) sekitar pukul 14.00 WIB. Dalam video yang beredar, material banjir berupa air bercampur lumpur dan kayu tampak begitu mengerikan. Tampak pula minibus yang hanyut terbawa banjir. Dalam data sementara yang diterima detikcom, ada puluhan bangunan yang rusak diterjang banjir bandang tersebut. Sejumlah sepeda motor juga hanyut tak sempat diselamatkan pemiliknya.

Bencana banjir dan tanah longsor kian hari lebih memprihatinkan. Hampir setiap puncak di musim penghujan bencana ini tak luput dari pendengaran kita. Banyaknya permasalahan yang timbul kala bencana ini melanda menjadi sorotan bersama. Berbagai solusi sudah diberikan namun tetap bencana ini sering melanda bahkan tak heran menelan korban jiwa.

Keprihatinan ini selayaknya menjadi perhatian khusus dari berbagai pihak. Terkait bencana yang sering melanda hampir di berbagai daerah. Lalu apa penyebab yang paling mendasar dari bencana yang melanda ini?. Bicara mengenai penyebab bencana yakni banjir dan tanah longsor setidaknya terdapat dua faktor diantaranya faktor alam dan manusia. Mengapa demikian? Sebab yang namanya faktor alam terjadi berdasarkan alur sebuah siklus, misalnya siklus hujan ringan sedang maupun lebat. Siklus ini akan mempengaruhi seberapa kuat daya tahan tanah dalam menyerap air itu sendiri dan menahan air ketika terjadi hujan lebat. Sedangkan faktor yang berasal dari manusia yakni adanya campur tangan manusia itu sendiri.

Seperti yang dijabarkan diatas bahwa faktor alam ini melalui beberapa proses atau siklus yang terkadang sulit untuk diprediksi. Ilmu dalam memprediksi terjadinya cuaca bisa tepat bisa pula melesat dari yang diteliti. Alam yang baik akan mampu menciptakan kondisi lingkung yang baik pula. Sebaliknya jika alam resah dengan banyaknya bencana yang melanda ini menjadi sebuah pertanda untuk kita sadari bahwa alam sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja, artinya sudah banyak terkontaminasi bahkan rusak oleh ulah manusia sendiri.

Berbicara ulah manusia maka ini dapat dikaitkan dengan faktor terjadinya bencana banjir dan tanah longsor yang berasal dari campur tangan manusia. Sudah menjadi hal wajar bahwa kita jumpai saat ini wilayah yang terkena dampak banjir dan tanah longsor mayoritas wilayah yang sudah terjadi perubahan. Banyaknya alih fungsi lahan, pembukaan lahan, pembangunan yang kian marak membuat hilangnya daya kekuatan tanah dalam menopang curah hujan dengan intensitas tinggi bahkan lebat. Tak adanya penghijauan ulang ketika dilakukannya pembukaan lahan menjadi penyebab banjir melanda. Hilangnya saluran pembuangan air serta penyempitan area resapan air juga menambah persoalan baru.

Selain itu banyaknya dataran tinggi yang tak ada penyangga tanah atau terasering menjadi penyebab terjadinya tanah longsor yang menelan korban jiwa. Terjadinya pembangunan di area rawan tanah longsor pun kerap terjadi. Awalnya hutan lebat demgan pepohonan yang menjulang tinggi kini uang ada gedung-gedung mewah yang berdiri kokoh. Area tambang yang semula legal mendapatkan izin dari Pemerintah kini muncul banyak tambang yang ilegal akibatnya ekosistem alam menjadi rusak. Penebangan pohon dalam jumlah banyak untuk pembukaan lahan dilakukan tanpa ada upaya penghijauan lagi.

Pembukaan lahan secara besar-besaran, eksplotasi kekayaan alam, pembangunan yang semakin marak, dll menjadi penyebab terjadinya banjir. Dampak buruk adanya alih fungsi dari hutan menjadi lahan menjadikan banjir datang dengan kekuatannya yang tidak terbendung.

Faktor keikutcampur tangan manusia dalam mengelola lingkungan membuktikan rusaknya aturan yang berlaku disuatu wilayah itu sendiri. Tak hanya itu aturan yang lahir untuk kepentingan segelintir orang menjadikan alam seolah-olah murka pada mereka yang merusak alam.

Aturan yang lahir dari sistem yang ada saat ini menjadikan mereka tak berdaya sama sekali. Sistem yang dianut negara ini yakni sistem kapitalisme berlandaskan asa manfaat, maka yang diraih hanya manfaat belaka. Misalnya melakukan tambang yang banyak dilakukan secara ilegal, hutan Kalimantan yang mulai tandus serta maraknya pembangunan yang dilakukan kurang memperhatikan lingkungan sehingga menimbulkan kerusakan.

Berbeda dengan cara pandang Islam dalam menyikapi adanya bencana ini. Bencana yang datang adakalanya sebagai bentuk ujian keimanan. Bencana juga disebabkan adanya kejahilan dan dosa-dosa manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Ar Rum ayat 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Islam dengan tegas melarang adanya eksplorasi dan eksploitasi terhadap sumber daya alam secara serampangan. Islam juga membatasi pengelolaannya sebagai kewenangan negara. Islam juga mencegah adanya eksploitasi serta destruktif. Saat bencana melanda pertama kali yang dilakukan adalah muhasabah diri dan bertobat serta memperbaiki perilaku sesuai syariat dalam konteks Individu, masyarakat maupun Negara.

Begitulah dalam pandangan Islam bagaimana Islam mengatur dan memberikan peringatan kepada manusia untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi ini.

Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.