Banjir, Antara Musibah atau Ulah Manusia?

Oleh: Febri Ayu Irawati (Mahasiswi Universitas di Makassar)

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy memimpin rapat koordinasi, membahas masalah banjir di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat pada Selasa (7/1/2020). Dalam rapat ini, Muhadjir menyebut bahwa banjir yang merendam sejumlah wilayah di Jakarta pada 1 Januari 2020 bukan hanya karena kiriman dari Bogor saja, melainkan disebabkan curah hujan tinggi.(liputan6.com, 07/01/2020).

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menilai banjir yang melanda kawasan Jabodetabek beberapa hari yang lalu diakibatkan ada persoalan serapan air pada bagian hulu, dalam hal ini di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat. Tito mengatakan banyak lahan-lahan di wilayah Puncak sudah ‘disulap’ menjadi pemukiman. Padahal, wilayah tersebut merupakan daerah utama resapan air hujan. (cnnindonesia.com, 06/01/2020).

Sebanyak 300 warga Jakarta sudah mendaftarkan diri ke Tim Advokasi Korban Banjir DKI Jakarta 2020 untuk menggugat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Jumlah ini masih bisa bertambah karena posko pendaftaran masih dibuka. (detik.com, 07/01/2020).

Hal ini menambah duka korban dan kita semua, sebab musibah ini hadir dikala euforia tahun baru yang sudah menjadi tradisi dunia tak terkecuali di Indonesia. Walau kini kesedihan tengah mencekam kita semua, namun dibalik musibah ini tentulah ada hikmah dan pelajaran yang kita dapat dipetik agar tidak terulang kembali dikemudian hari.

Antara Musibah dan Ulah Tangan Manusia

Jika kita menggunakan kacamata iman tentulah semua musibah ini akan kita sandarkan kepada takdir yang maha kuasa Allah SWT. Namun, tidak jarang musibah datang bukan tanpa alasan, tetapi ada ulah tangan manusianya sendiri yang ikut andil didalamnya. Seperti yang kita ketahui saat ini kita tengah hidup didalam sitem kapitalis, dimana dalam sistem ini memandang bahwa alam sebagai sumberdaya yang harus dan wajib untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mendatangkan keuntungan berupa materi. Sehingga membuat rezim neolib kapitalistik dengan senang hati mempersilahkan swasta lokal maupun asing untuk mengeksploitasi kekayaan Sumber Daya Alam (SDM). Walau mereka berdalih telah melarang dengan membuatkan berbagai macam undang-undang namun nyatanya tidak ada pengaruh samanya sekali.

Padahal jika kita mampu menelisik lebih dalam lagi, dampak buruk dari pengalihan fungsi lahan itu sangat banyak. Seperti yang kita tahu di Jakarta sendiri banyak terdapat puluhan lahan-lahan yang diubah menjadi bangunan-bangunan besar, seperti perusahaan, pabrik-pabrik bahkan rumah-rumah pribadi. Tentu hal ini dapat mengakibatkan kerusakan ekosistem. Sebab dengan jarangnya atau bahkan tidak adanya lagi pohon sebagai media penyerap air hujan maka banjirpun akan terjadi.

Selanjutnya, pembukaan lahan dengan cara dibakar juga salah satu dampak buruk dari pengalihan lahan . Selain itu dampak buruk dari pngalihan fungsi lahan dapat mengakibatkan kerusakan unsur hara dan air dalam tanah. Penelitian lingkungan dari Universitas Riau, Ariful Amri Msc, pernah meneliti kerusakan tanah karena perkebunan kelapa sawit. Penelitia itu menyimpulkan bahwa, dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter unsur hara dan air dalam tanah.

Butuh Solusi Islam

Banyaknya masalah yang terjadi tak akan membuat minusnya harapan untuk menyelesaikan semua masalah ini. Satu hal yang harus disadari, jika kita terus bertahan dalam sistem kapitalis maka tidak akan bisa menyelesaikan masalah, tetapi malah akan menambah masalah. Dari semua fakta yang telah ada, ini semua jelas menampakan keserakahan manusia dalam negara kapitalis, mendorong mereka memanfaatkan alam secara liar tanpa memikirkan dampak negatif dari apa yang mereka lakukan. Allah SWT berfirman,
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali” (TQS. AR-Ruum : 41).

Sangat jauh berbeda jika negara Islam yang mengelola sumber daya alam, sebab apa-apa yang ada di bumi adalah kepunyaan Allah SWT. Seperti Firman Allah,
“Kepunyaan-nya lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang ada di aantara keduanya dan semua yang di bawah tanah” (TQS. Thaha : 6). Selain itu, kebijakan negara Islam dalam mengatasi banjir begitu banyak dan diakui keberhasilannya hingga berabad-abad lamanya. Beberapa kebijakannya yaitu membangunya bendungan-bendungan untuk menampung curahan air hujan, air sungai dan lain-lain. Memetakan daerah rawan banjir, longsor, sunami dan bencana alam lainnya serta melarang masyarakat atau penduduk untuk membangun pemukiman di daerah-daerah tersebut. dan masih banyak lagi kebujakan-kebijkan negara Islam.

Maka dari itu, marilah kita bersama membuka mata hati dan pikiran kita, bahwasanya sistem kapitalis saat ini hanya akan membawa kerusakan dan hanya Islamlah satu-satunya solusi tuntas untuk mengatasi semua masalah ini. Allah berfirman, “Dan janganlah kalian membuat kerusakan di atas muka bumi setelah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepadanya dengan rasa takut tidak diterima dan harapan (Akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (TQS. Al-A’raf : 56).

Semoga musibah ini bisa mengembalikan kesadaran umat akan rusaknya sistem kapitalis saat ini, mengembalikan keimananya kepada Allah SWT dan semoga dari sini kejayaan Islam akan semakin cepat tegak, Aamiin. Wallahu a’lam bis showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *