Balita Penderita Epidermolisis Bulosa Yang Dibantu FPI Kab Malang Akhirnya Meninggal Dunia

Jakarta –
Reyhan Abdullah, balita berumur 1,5 tahun pasangan suami istri (Pasturi) Bapak Bahrul Ulum dan Ibu Qosidah mengalami penyakit kulit yang belum diketahui pasti penyebabnya.

Selama 2 bulan terakhir balita yang kerap dipanggil Reyhan tersebut mengalami kesulitan untuk tidur, karena penyakit yang diderita dirasakan panas olehnya.

Mendapat laporan dari salah seorang farmasi yang ia dapat dari Lurah Bulu Pitu, Ketua DPW HILMI-FPI Kabupaten Malang, Ustadz Mukhlis bersama Bendahara HILMI-FPI Kabupaten Malang, Al-Habib Qothadah Barakwan segera mengunjungi reyhan dikediaman sang nenek yang berlokasi di RT 03, RW 02 Desa Bulu Pitu, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, rabu (18/12/2019).

Ustadz Mukhlis menjelaskan kondisi reyhan yang sangat memprihatinkan, kulit yang terlihat seperti melepuh itu menyebar hampir disekujur tubuhnya.

Ayah Reyhan yang berprofesi sebagai pengemudi barang rongsok mengalami kesulitan untuk membiayi pengobatan reyhan, sementara sang ibu saat ini tengah di asramah (TKW) untuk berjuang bekerja ke luar negeri agar dapat membiayai sang anak.

Melihat kondisi tersebut, DPW HILMI-FPI Kabupaten Malang segera berkoordinasi ke DPP HILMI-FPI untuk mendapat arahan secara langsung serta menyalurkan bantuan sebesar Rp. 3.000.000 yang merupakan amanah titipan dari salah seorang donatur.

Keesokan harinya, Tim HILMI-FPI Kabupaten Malang membawa reyhan bersama keluarganya ke RSUD Kanjuruhan, sekitar ba’da sholat dzhuhur sang balita tersebut dibawa ke ruang UGD untuk mendapat penanganan medis pertama di RS tersebut.

“Kata Dokter adik reyhan ini alami penyakit Epidermolisis Bulosa,” terang ustadz Mukhlis.

Semenjak alami penyakit tersebut, reyhan sebelumnya tidak pernah sama sekali dapatkan penangan secara medis, karena kondisi keluarga tergolong kurang mampu, sebagaimana informasi yang didapat ustadz mukhlis dari pihak keluarga.

Setelah beberapa hari mengalami perawatan, sang nenek secara tiba-tiba meminta reyhan untuk dipulangkan, alasannya cukup unik, karena ia tidak mau melihat cucunya di operasi plastik.

“Sang nenek berpikir, kalau operasi plastik yang akan dilakukan itu dengan cara plastik disolderkan ke tubuh pasien, kemudian kita minta pak lurah dan teman-teman dari perawat untuk membantu menjelaskan kepada sang nenek proses operasi plastik itu seperti apa, tujuannya agar sang nenek faham dan dek reyhan ini dapat pengobatan medis secara optimal,” Kata Ustadz Mukhlis.

Hingga saat itu kondisi reyhan sudah mulai membaik, penyakit kulit yang dideritanya telah mulai mengering dengan perawatan intensif yang dilakukan para perawan dan dokter rumah sakit, sebagaimana dijelaskan ustadz mukhlis.

“Alhamdulillah, kondisi reyhan saat ini sudah mulai membaik, kulitnya sebagian sudah mulai mengering,” Lanjut Ustadz Mukhlis, sabtu (24/12/2019).

“Selama dirawat, reyhan ditemani nenek dan bibinya yang senantiasa menjaga reyhan dengan penuh kasih sayang, meski saat ini terkadang masih alami kesulitan untuk tidur, namun tidak separah sebelum mendapat perawatan,” tuntas Ustadz Mukhlis.

Meski belum terdaftar di KK sehingga reyhan tidak memiliki BPJS, HILMI-FPI tetap akan berupaya mengobati sampai tuntas walaupun dengan menjadi pasien umum, perhari biaya yang dihabiskan untuk pengobatan berikut dengan kamar inap reyhan, HILMI-FPI Kabupaten Malang menghabiskan biaya sekitar Rp. 200.000 – Rp. 400.000.

Update Pada : 24 Desember 2019 12:35

Namun Allah SWT  berkehendak lain. Allah SWT akhirnya memanggil Reyhan Abdulloh untuk kembali kepadaNya pada usia 1,5 tahun, Desember 2019.

“Seluruh ormas dan yg ikut usaha bantu untuk upaya kesembuhan Reyhan. Semoga Allah catat sebagai amalan penghapus dosa kita semua juga dosa-dosa orang tua kita.saudara kita. kalau reyhan insya Allah udah Allah jamin tempatnya di surga Allah bersama orang-orang shaleh. Amin istajib lana ya rabb”, ujar Relawan HILMI – FPI.

Semoga Allah SWT menempatkan almarhum Reyhan Abdulloh di tempat yang paling mulia. Dan kebaikan para pengurus dan relawan HILMI – FPI Kabupaten yang telah berikhtiar dan berjuang semaksimal mungkin semoga menjadi amal ibadah.

Sumber: HILMI – FPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *