Balada Ujian dalam Wajah Asli Demokrasi

Oleh : Vikhabie Yolanda Muslim, S.Tr.keb

 

Peristiwa demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan akibat para pendukung Donald Trump yang kecewa pada hasil pilpres AS 2020 di Capitol Hill pada 6 Januari 2021 lalu, tampaknya menjadi catatan sejarah buruk bagi Amerika Serikat. Betapa tidak, hal ini terjadi di negeri yang terkenal sebagai kampiun demokrasi dan rujukan bagi seluruh dunia. Kerusuhan ini diawali oleh para pendukung Trump yang meminta keputusan kemenangan Joe Biden di Capitol Hill untuk dihentikan karena tidak setuju dengan hasil pemilu. Sejumlah pendemo pun bahkan berhasil masuk ke dalam gedung yang mengakibatkan kerusakan hingga kerugian materil. Akibatnya, keputusan kemenangan Joe Biden dan Kamala Harris sempat ditunda. Tak berhenti sampai disitu, seorang pendukung Trump pun dikabarkan bunuh diri usai menghadiri demonstrasi, yang turut menambah daftar korban meninggal akibat kerusuhan Capitol Hill, selain dua orang polisi yang juga kehilangan nyawa saat bertugas (liputan6.com).

Dahsyatnya akibat dari ledakan hasil pemilihan presiden di negara adidaya yang menjadi rujukan penerapan nilai demokrasi ini, pada akhirnya membuat kita bercermin dan melihat sisi lain balada penerapan demokrasi. Peristiwa ini kemudian mampu membawa kita meneropong melampaui dinding-dinding tak kasat mata yang selama ini telah disadari sebagai wajah asli dari sistem bernama demokrasi. Ada beberapa poin yang dapat ditangkap pada kejadian ini.

Yang pertama, demokrasi kini semakin membuktikan dirinya sebagai sistem yang penuh ujian akibat penerapannya di seluruh dunia. Wajah asli demokrasi semakin tampak terlebih pada pemilihan dan pasca pemilihan presiden Amerika Serikat yang menyita perhatian dunia. Hal ini terlihat dari sikap masyarakat Amerika Serikat dalam menyikapi hasil pemungutan suara yang dianggap tidak adil oleh sebagian pendukung Trump. Terlebih, kekerasan yang ditunjukkan oleh pendukung petahana Donald Trump di luar gedung Capitol merupakan akibat dan efek langsung dari fenomena gunung es dalam penerapan demokrasi selama ini. Yakni sebagai akibat dari gagalnya proses demokrasi membangun masyarakat yang terbuka dan bersatu. Sementara itu, gagasan pergantian kepemimpinan yang dibalut dengan kekerasan hingga menimbulkan korban jiwa semakin menambah daftar kelam buruknya demokrasi dalam skala global.

Lalu yang kedua, dalam konteks kepentingan global, seberapa pun dunia yang mungkin menaruh harapan perubahan dan perdamaian kepada pasangan calon yang memenangkan pemilu yakni Joe Biden, atau sebesar apa pun masyarakat global berharap kepada Trump yang beberapa kebijakannya juga menguntungkan negara kapitalis secara umum, tidak akan memberi pengaruh yang berarti bagi kemajuan sistem dunia secara umum. Hal ini terbukti dari ricuhnya pendukung petahana yang mengakui diri hidup dalam sistem yang demokratis. Selain itu, manipulasi dan penindasan politik termasuk kolonialisme modern di negeri-negeri kaum muslim yang telah berlangsung selama hampir satu abad, pun turut dipimpin oleh sang negara adidaya, Amerika Serikat dan sekutunya. Nyatanya, kepercayaan demokrasi sendiri dikebiri, perdamaian yang diharapkan seluruh dunia tampaknya belum menunjukkan batang hidungnya hingga kini. Tampaknya ini menjadi tantangan berat bagi dunia untuk menciptakan kedamaian dan kerja sama seluruh elemen masyarakat dalam rangka melakoni perpolitikan global. Namun perlu ditegaskan sekali lagi, jangan terlalu berharap, siapapun pemenangnya.

Yang ketiga, pada hakikatnya, dimanapun demokrasi diterapkan, baik di dunia barat yang menjadi corong lahirnya sistem ini, tidak akan menunjukkan wajah yang berbeda. Wajah dan watak aslinya yang hanya menempatkan kekuasaan dan kursi kepemimpinan di atas segalanya. Hal ini membuktikan bahwa demokrasi bukanlah sistem final dan bukan pilihan yang tepat bagi dunia. Karena semakin hari semakin menunjukkan kebobrokan dan kegagalannya dalam menjaga kepentingan rakyat. Bahkan, banyak ahli turut berpendapat bahwa demokrasi semakin rapuh dan akan menemui ajalnya, seperti dalam buku fenomenal yang berjudul “How Democracies Die” yang ditulis oleh dua ilmuwan politik terkemuka, profesor Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Dalam buku ini, berpendapat bahwa demokrasi mati bukan karena pemimpin diktator yang memperoleh kekuasaan lewat kudeta, melainkan justru oleh pemimpin yang menang melalui proses pemilu.

Selanjutnya yang keempat, hal ini membuat kita seharusnya mampu membaca peta dan sistem politik yang terbukti telah gagal. Berbagai permasalahan dunia, baik bencana maupun kesenjangan ekonomi yang semakin diperparah dengan adanya pandemi yang belum mampu ditangani, kini membuka lebar mata kita bahwa semua ini diakibatkan oleh sistem yang salah. Para pemimpin dunia yang bernanung dan menggantungkan diri di bawah sistem demokrasi pun telah gagal memenuhi janjinya dalam menjaga keselamatan rakyat. Terlebih pada kaum muslim yang semakin tersudutkan dan dilecehkan atas nama kebebasan demokrasi, yang seringkali menjadi korban penerapan pasal karet.

Yang kelima, sudah saatnya dunia yang sakit kini membutuhkan alternatif pengobatan yang sesuai dengan diagnosa sakitnya. Tentu saja sistem yang sakit sudah semestinya diganti dengan sistem yang memiliki imunitas baik. Dunia membutuhkan sebuah sistem yang tidak ternoda dengan kepentingan pribadi dan golongan yang berebut kursi empuk kekuasaan. Sebuah sistem yang murni semata-mata untuk menjalankan fungsi utama manusia sebagai pemimpin di muka bumi dan menjaga seluruh jiwa baik muslim maupun non muslim sebagai warga negara yang patut dilindungi dengan adil. Bukan hanya bertanggung jawab pada rakyat, tetapi terlebih pada Sang Maha Pencipta Semesta sebagai pengatur kehidupan. Sistem itu berasal dari Islam, yang berada dibawah naungan khilafah, yang mampu membawa masa depan dunia keluar dari kebohongan dan kehancuran.

Kebutuhan masyarakat dunia akan adanya sistem Islam ini mutlak adanya. Yang telah terbukti mampu menciptakan stabilitas global karena bersumber langsung dari Sang Pembuat Hukum yang tentu memberikan berkah untuk seluruh ciptaan-Nya. ”Dan tidaklah engkau mengharap Al-Qur’an diturunkan kepadamu, melainkan sebagai rahmat dari Rabb-mu.” (QS. Al-Qashash [28]: 86).

Wallahua’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *