Bahaya Pemurtadan Tersistem, Umat Butuh Junnah Segera

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh : Asha Tridayana, S.T.

 

Belum lama ini terjadi peristiwa yang sangat meresahkan umat Islam pada umumnya, dan warga muslim di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara pada khususnya. Tidak lain adanya tindakan pemurtadan secara sistematis dan terorganisir. Hingga terdapat tiga lembaga antara lain LADUI MUI Sumut, PAHAM Sumut dan TPUA Sumut yang membuat surat pernyataan bahwa umat Islam warga Sumatra Utara mengutuk keras terhadap tindakan tersebut. Salah satunya terjadi pada seorang muslimah bernama Nurhabibah Br. Brutu. yang diduga dijanjikan pekerjaan dan akan dinikahi oleh pemuda non muslim setelah berkenalan melalui media sosial.

 

Namun, pemuda tersebut hanya melakukan tipu muslihat dan akhirnya memaksanya untuk berpindah agama. Pihak keluarga Nurhabibah Br. Brutu. segera melaporkannya kepada kepolisian. Namun, tim kuasa hukum dari Nurhabibah Br. Brutu merasa kecewa atas tindakan diskriminatif yang diduga dilakukan oleh pihak kepolisian sektor Pangkalan Susu yang menolak laporan polisi dari ayah korban. Sementara laporan polisi dari pemuda tersebut justru diterima dan ditindaklanjuti dengan mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap abang korban. (www.portibi.id 13/05/22)

 

Peristiwa ini diakui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut yang mengungkapkan bahwa adanya faktor eksternal dan internal yang diduga menyebabkan warga Sumut memilih murtad. Disampaikan oleh Ketua Bidang Dakwah MUI Sumut, M. Hatta, bahwa faktor eksternal yakni adanya kelompok yang secara masif dan sistematis mengajak warga untuk keluar dari agama Islam. Bermula dengan menawarkan pekerjaan dan bantuan keuangan kepada masyarakat. Sementara faktor internal terkait keimanan seorang Muslim yang bisa lemah apalagi adanya dorongan dari luar sehingga mudah tergoyahkan. (news.detik.com 15/05/22)

 

Tidak dapat dipungkiri, kasus pemurtadan yang dilakukan secara terang-terangan dan terorganisir sangatlah memprihatinkan. Upaya-upaya terselubung dilakukan oleh sejumlah oknum dengan tujuan mengajak keluar dari keIslaman. Padahal keimanan merupakan pondasi yang semestinya tidak mudah tergoyahkan dalam keadaan apapun. Namun, fakta yang terjadi di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara menunjukkan warga setempat terbujuk sehingga memilih murtad.

 

Sungguh sangat disayangkan, terlebih yang menjadi penyebab pemurtadan terkait faktor ekonomi masyarakat setempat. Karena realitanya, masalah ekonomi menjadi beban dan ketakutan tersendiri bagi masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang rela melakukan apa saja demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Bekerja siang malam hingga melakukan hal-hal yang dilarang hukum dan agama pun tidak lagi dihiraukan. Ditambah lagi, kondisi perekonomian negara sedang krisis. Otomatis masyarakat ikut terdampak baik dari segi penghasilan maupun kebutuhan hidup yang semakin sulit dijangkau.

 

Sementara itu, para oknum pelaku pemurtadan justru memberikan tawaran pekerjaan dan bantuan finansial. Ada juga yang melalui pernikahan dengan janji-janji akan disejahterakan. Hal ini, tentu saja menjadi angin segar di tengah keterpurukan ekonomi. Masyarakat cukup keluar dari Islam tanpa perlu bekerja susah payah memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Inilah yang sangat berbahaya ketika keimanan diperjualbelikan. Dengan mudah digadaikan demi sejumlah materi yang pastinya tidak seberapa karena sebanyak apapun tidak akan mampu menggantikan iman Islam. Namun, realiatanya keimanan yang lemah turut menjadi faktor pemicu masyarakat rela keluar dari Islam. Bukan lagi penghalang, keIslaman dapat dengan mudah dilepaskan. Masyarakat tidak lagi memikirkan konsekuensi atas keputusan tersebut karena tawaran materi jauh lebih menarik dan jelas di depan mata.

 

Pemurtadan tersistem dapat terjadi karena pondasi keimanan bukan lagi sebuah kebutuhan yang patut diperjuangkan. Apalagi di tengah gempuran pemikiran dan penjajahan asing yang membuat kemiskinan dan kesenjangan sosial semakin merajarela. Negara yang semestinya berperan mengurusi kebutuhan masyarakat justru berlepas tangan. Tanggungjawab negara hanya sebatas bantuan sosial, tentu tidak mampu mengentaskan kemiskinan. Akibat dari terbelenggunya negara dengan sistem kufur yang rusak dan merusak. Tidak lain sistem kapitalisme yang berasaskan sekulerisme yaitu aturan agama terpisah dengan kehidupan. Sehingga tidak mengherankan jika masyarakat dengan mudah melepaskan keIslaman demi materi.

 

Peristiwa semacam ini tidak bisa dibiarkan begitu saja atau dianggap biasa saja oleh pemerintah termasuk pihak berwajib. Karena tidak menutup kemungkinan, hal serupa terjadi di wilayah-wilayah lain negara ini. Bahkan kasus di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara yang menimpa Nurhabibah Br. Brutu terjadi diskriminasi terkait laporan kepolisian. Hal ini telah menunjukkan bahwa kasus pemurtadan ini benar-benar sistematis sehingga tidak cukup masyarakat saja yang bertindak. Namun, perlu dukungan dan upaya nyata dari pemerintah agar kasus serupa tidak meluas.

 

Tindakan nyata hanya mampu terwujud ketika negara mencampakkan sistem kapitalisme. Karena mustahil penerapan sistem yang menumbuhsuburkan pemurtadan dapat memberikan solusi. Oleh karena itu, satu-satunya cara hanya mengganti sistem saat ini menjadi sistem yang mampu menjunjung dan membela Islam. Tidak lain sistem Islam diterapkan dalam segala aspek kehidupan. Sehingga negara memiliki tanggungjawab muhafadzah ala ad diin yaitu mempertahankan keIslaman seluruh umat dengan berbagai upaya, baik dari internal maupun eksternal.

 

Upaya internal dengan cara meningkatkan keimanan dan ketakwaan sebagai seorang muslim. Negara memberikan fasilitas berupa kajian keIslaman dan berbagai kemudahan dalam menjalankan syariat Islam. Sementara upaya eksternal, negara mampu bertanggungjawab mengurusi dan menjamin seluruh kebutuhan umat dari kesehatan, pendidikan, keamanan dan hubungan sosial masyarakat. Disamping itu, negara juga menjaga akidah umat dari berbagai serangan musuh baik pemikiran maupun sikap yang bertentangan dengan ajaran Islam.

 

Oleh karena itu, kebutuhan akan negara dengan sistem Islam dan dipimpin oleh khalifah menjadi hal yang sangat mendesak sehingga perjuangan untuk mewujudkannya harus terus dilakukan. Seperti yang dijelaskan oleh Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, “(Imam itu perisai) yakni seperti as-sitr (pelindung), karena imam (Khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum Muslimin, dan mencegah antar manusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya”.

 

Wallahu’alam bishowab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.