Baby Boom : Corona Negatif, Isteri Positif

Oleh : Tri Marni, S.Pd (Guru) dan Sri Wahyu Indawati, M.Pd (Motivator)

Jumat (8/5) pagi, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalimantan Barat, Tenny Calvenny Soriton melakukan monitoring ke Puskesmas Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah. Tujuan dia kesana guna melihat pelayanan KB saat pandemi covid. (Pontianakpost.co.id, 11/5/2020)

Anjuran pemerintah agar berdiam diri di rumah selama pandemi Covid-19 memungkinkan meningkatkannya angka kelahiran. Antisipasi baby boom, pelayanan KB tetap berjalan sesuai protap covid. Bahkan jika masyarakat tak berani datang ke fasilitas kesehatan, layanan bisa dilakukan dengan jemput bola.

Patut kita apresiasi upaya pemerintah dalam upaya mengantisipasi baby boom hingga pelayanan dilakukan dengan jemput bola. Saat ini dalam kondisi pandemik, Indonesia mengalami krisis, ekonomi lesu, daya beli menurun, banyak yang di PHK, lonjakan harga bahan pokok dibarengi naiknya biaya listrik dan PDAM. Ini akan berdampak bagi ibu hamil dan menyusui yang memerlukan asupan gizi untuk tumbuh kembang anaknya. Ibu hamil dan yang menyusui tidak boleh stres, tentu harus dalam suasana hati yang tenang agar bayinya juga tidak mengalami stres.

Sebenarnya bukan tidak boleh hamil. Jika kita cermati, bukan tanpa sebab dampak buruk bisa terjadi pada ibu hamil dan menyusui jika tidak ditopang dengan tercukupinya kebutuhan di rumah. Belum lagi, alasan yang dijadikan untuk tidak mau memiliki anak banyak adalah karena biaya pendidikan dan kesehatan mahal. Padahal problem ini terjadi disebabkan oleh buruknya pengaturan dan pengurusan negara terhadap rakyatnya. Penerapan sistem kapitalisme yang diterapkan di Indonesia hanya menyejahterakan segelintir orang (kapitalis). Yang ekonomi pas pas-an atau ke bawah, seolah-olah tidak boleh banyak anak. Menganggap banyaknya anak adalah beban. Negara enggan dan abai dalam pengurusan untuk mewujudkan kesejahteraan sandang, pangan dan papan untuk rakyatnya. Karena bagi negara dalam sistem kapitalisme-demokrasi, rakyat adalah beban bagi negara.

Hal di atas tentu tidak akan terjadi di dalam negara yang menerapkan aturan Islam secara kaffah (total) yaitu Negara Khilafah. Setiap keluarga tidak dibatasi untuk memiliki banyak anak. Hal ini karena Rasulullah ﷺ bangga terhadap banyak jumlah umat Islam.

تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاشِرٌ بِكُمُ اْلأَنْبِيَاءَ يَومَ الْقِيَامَةِ

Artinya : “Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat.” [Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik]

Negara Khilafah tidak akan menzalimi rakyatnya. Hal ini berdasarkan tuntunan syara’ bahwa negara adalah penanggung jawab utama dalam mengurusi hajat rakyat yaitu sebagai raain (pelayan/pengurus) dan junnah (pelindung).

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ : “Imam (Khalifah) raa’in (pengurus hajat hidup rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya” (HR Muslim dan Ahmad).

Dengan keimanan dan ketakwaan yang dibangun oleh Negara Khilafah, pengelolaan APBN-nya dilakukan dengan baik di Baitul Maal. Di antara sumber pemasukan APBN Khilafah adalah harta milik umum yang sangat berlimpah seperti tambang, kekayaan laut, hutan, dsb. Ditambah harta milik negara seperti pungutan jizyah, kharaj, ghanimah, fa’i, dst. Jadi, mustahil kebutuhan asasi rakyat tidak tercukupi. Juga pendidikan dan kesehatan yang digratiskan untuk seluruh rakyat Khilafah.

Manusia adalah penduduk bumi ciptaan Allah Subhanahu wa ta’alla yang maha sempurna dengan diberikan akal. Dengan adanya akal manusia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kebenaran akan mendatangkan kebaikan (maslahat) dan mencegah keburukan (Mafsadat).

Akal merupakan karunia agung yang diberikan Allah azza wa jalla kepada Bani Adam, ia juga pembeda antara manusia dengan hewan, dengannya manusia dapat terus berinovasi dan membangun peradaban dan kejayaan manusia. Sehingga bagi Negara Khilafah, Sumber Daya Manusia yang banyak dapat diberdayakan untuk membangun peradaban. Bukan diperdayakan seperti negara yang menganut sistem kapitalisme-demokrasi.

Bukan juga karena Allah memberikan akal terus kita semau hati bersikap. Manusia di muliakan dan direndahkan karena penggunaan akalnya. Allah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 100:

قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya  : “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai arang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.“

Bumi ini sedang Allah beri ujian wabah corona, hampir semua aktivitas di luar dihentikan dan dipindahkan kerumah. Kita harus social distancing demi keamanan bersama. Bahkan kita pun tidak tahu sampai kapan wabah ini terus menyerang dunia hingga berakhir.

Sebelum terjadi pandemik covid-19, jumlah penduduk Indonesia  tahun 2020 berada pada kisaran 271 juta jiwa (detik news). Sementara korban covid-19 semakin meningkat yang meninggal dunia, baik yang PDP maupun yang positif. Dengan adanya wabah ini, tentu jumlah penduduk di Indonesia semakin menurun. Padahal ekonomi bisa berjalan jika ada manusianya.

Dilansir dari website Nasional Geographic (2018) beberapa negara yang mengalami problem demografis seperti Amerika Serikat, Spanyol, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Tiongkok. Bahwa di negara-negara tersebut warganya menolak untuk punya anak, sehingga tingkat populasi di 6 negara ini tidak stabil. Bahkan pemerintah Korea Selatan dan Jepang telah menawarkan insentif uang tunai agar penduduknya tertarik memiliki anak. Berbeda ya dengan Indonesia yang terus mengalami peningkatan jumlah penduduk dan setiap bayi yang dilahirkan sudah ikut menanggung hutang negara.

Di dalam Islam, SDM merupakan aset untuk menyebarkan cahaya Islam dan membumikan al-Qur’an. Umat Islam pasti percaya dengan bisyarah (kabar gembira). Bisyarah atau kabar gembira dari Nabi ﷺ merupakan spirit utama kaum muslimin untuk terus berjuang. Baik melalui Al-Quran ataupun melalui lisan Nabi ﷺ, kabar gembira itu menjadi sumber kekuatan yang tak mampu dihentikan oleh siapa pun. Keyakinan terhadap janji-janji yang disampaikan tersebut menjadi pelecut motivasi kaum muslimin untuk merealisasikannya. Sebab, seluruh janji Nabi ﷺ itu pasti akan terjadi. Nabi tidak pernah berbicara kecuali itu sesuai dengan arahan wahyu ilahi.

أي المدينتين تفتح أولا : أقسطنطينية أو رومية ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : مدينة هرقل تفتح أولا . يعني : قسطنطينية

Artinya : “Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Roma?’ Rasul menjawab, ‘Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.’ Yaitu: Konstantinopel’.” (HR. Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)”

Berdasarkan hadist di atas kota konstantinopel sudah di taklukan oleh Muhammad Al-Fatih, tinggal kota Roma yang menunggu untuk kita taklukan selanjutnya. Maukah kalian menjadi pasukan itu? Kalau mau pasti kita membutuhkan generasi yang mumpuni dari sisi kuantitas dan kualitas. Dengan kuantitas/banyaknya generasi Islam maka akan memudahkan kita untuk segera menaklukan kota Roma, walaupun tak selamanya jumlah menentukan kemenangan jika tidak dibarengi dengan kualitas keimanan. Dan generasi yang berkualitas lahir dari rahim yang berkualitas pula. Begitupun dalam mewujudkan bisyarah/kabar gembira tegaknya Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwah yang telah disampaikan oleh Rasulullah ﷺ.

Jadi, Islam tidak melarang terjadi baby boom. Karena kehidupan dan eksistensi negara terwujud jika ada manusia. Karena inilah fitrah mengapa Allah Ta’ala ciptakan laki-laki dan perempuan untuk terus melestarikan keturunannya. Dibalik banyaknya yang meninggal, ada generasi-generasi baru yang akan melanjutkan estafet peradaban. Semoga wanita yang dikaruniai anak saat pandemik, mampu bersabar dengan ujian ini dan ikut memperjuangkan tegaknya Islam di muka bumi. Wallahu’alam[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *