Asing Makin Lancang Lecehkan Negeri Muslim Terbesar

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Astiningsih, S.E.

 

Beberapa hari kemarin, publik Indonesia sempat ramai dengan beberapa berita diplomatik. Salah satunya adalah berita tentang penolakan UAS dan rombongan masuk ke Negeri Singapura. Alasan yang digunakan oleh otoritas Singapura antara lain tuduhan UAS mengajarkan paham ekstrimisme dan segregasi. Alasan ini terlihat sangat kental dengan nuansa Islamophobia. Selain berita penolakan UAS masuk Singapura, ada pula berita tentang pengibaran bendera ‘pelangi’ di Kedutaan Besar Inggris untuk RI tanggal 17 Mei 2022 dalam rangka merayakan Hari Internasional Melawan Homophobia, Biphobia, dan Transphobia (IDAHOBIT). Instagram resmi Kedubes Inggris untuk RI dalam @ukinindonesia memberikan keterangan bahwa pengibaran bendera ‘pelangi’ ini merupakan bentuk dukungan pihak Inggris terhadap kaum LGBT. Dua berita diplomatik ini telah menimbulkan berbagai reaksi penolakan dari masyarakat Indonesia.

Peristiwa penolakan UAS oleh Singapura dan Sikap Kedubes Inggris untuk RI telah menunjukkan sikap perendahan asing terhadap negeri Indonesia. Pasalnya, Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim. Islam telah memiliki seperangkat aturan yang jelas dan tegas berkaitan dengan sikap terhadap alim ulama dan paham LGBT. Islam telah memuliakan posisi para ulama yang lurus dan menentang dengan keras paham LGBT. Selayaknya pihak asing, apalagi yang memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia dapat menghormati nilai-nilai dan aturan-aturan Islam. Peristiwa ini, selayaknya mengharuskan Pemerintah Indonesia mengevaluasi kembali berbagai kebijakannya, agar kewibawaan Indonesia selaku negara berpenduduk mayoritas muslim bisa menguat di mata asing.

Ulama memiliki posisi yang tinggi dalam Islam. Ulama adalah para pewaris Rasul. Ulama dengan ketinggian ilmu dan ketakwaannya berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Ulama akan mendidik generasi selanjutnya dengan Islam agar tercipta generasi cemerlang. Selain itu, ulama yang lurus juga akan menjaga penguasa umat agar senantiasa berada dalam koridor syara’. Tanpa kedua peran ulama ini, hidup masyarakat bisa sajau kacau.

Adapun berkaitan dengan LGBT, Islam dengan tegas menolak penyimpangan seksual apapun bentuknya. Saat ini fakta telah membuktikan berbagai kerusakan yang ditimbulkan oleh penyimpangan seksual ini, baik itu masalah penyakit, ketahanan keluarga, hubungan sosial masyarakat, dan lain sebagainya. Islam mengajarkan bahwa pasangan wanita adalah pria, bukan pria dengan pria ataupun wanita dengan wanita. Islam telah menyediakan seperangkat aturan lengkap yang dapat mencegah pemeluknya untuk dapat terjerumus dalam paham LGBT. Adapun jika terlanjur menjadi pelaku penyimpangan seksual, ia akan dihukum dengan keras.

Sayangnya saat ini, meskipun Indonesia masih berstatus sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, tapi kewibawaan negeri ini sudah tidak nampak lagi. Sekularisme liberalisme telah menggempur negeri-negeri muslim dengan paham-paham kebebasan dan hak asasi manusia, hingga menjadikan pemeluk Islam asing dengan ajaran agama sendiri. Pemerintah pun tidak bisa melindungi marwah kaum muslimin.

Kalau dipikirkan lebih jauh, sebetulnya sangat wajar dua peristiwa semacam ini terjadi dalam sistem Kapitalisme. Selain dua masalah tersebut, masih banyak lagi PR masalah kehidupan yang lain, baik itu masalah agama, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan lainnya, seakan-akan kehidupan kaum muslimin tidak pernah lepas dari masalah kehidupan. Kapitalisme tidak mengakui pengaturan agama (dalam hal ini Islam) dalam kehidupan. Sekularisme menjadikan pandangan manusia sebagai standar dalam kehidupan. Akibatnya, sangat wajar jika banyak terjadi penyimpangan syariat Islam. Semua PR masalah kehidupan tersebut hanya akan selesai jika Islam diterapkan secara sempurna dalam setiap aspek kehidupan, bukan hanya dengan penerapan sebagian aturannya saja. Wallahu ‘alam bi showab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.