AS Rusuh, Demokrasi Segera Runtuh

Oleh: Wati Ummu Nadia

 

Dalam buku Mitos-Mitos Palsu Ciptaan Barat (versi asli berjudul Geopolitical Myths), Adnan Khan menuliskan wajah asli Amerika Serikat dalam mitos kedelapan, yakni Amerika tak tertandingi. Mengapa demikian? Sebab, Uni Soviet sebagai kekuatan tandingan AS telah runtuh di awal 1990. Kondisi ini sangat menguntungkan AS. Amerika Serikat tak lagi disibukkan dengan pertikaian antara sistem pasar dan Marxisme. AS juga dipandang menjadi bangsa yang dominan di segala bidang. Dampaknya, dunia melihat seolah-olah demokrasi liberal ala Barat adalah bentuk final dari sistem pemerintahan manusia.

Namun jika dilihat dengan lebih seksama, ternyata kedigdayaan demokrasi Amerika yang baru tegak selama hampir tiga dekade ini sudah menunjukkan kerapuhannya. Tragedi Kerusuhan Capitol Hill yang menewaskan 4 orang pada 6 Januari 2021 lalu sukses menyingkap wajah buruk demokrasi. Demokrasi yang disanjung sebagai sistem paripurna mulai runtuh citranya di mata dunia.

Kerusuhan itu bermula saat massa pendukung Trump menggelar demonstrasi di depan Gedung Kongres Capitol Hill ketika tengah berlangsung penghitungan pemungutan suara elektoral (electoral vote) pemilu pada Rabu (6/11) siang. Lalu, massa pendukung Presiden Donald Trump menyerbu dan merusak Gedung Kongres Capitol Hill sebagai bentuk penolakan pengukuhan kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden tahun ini oleh Kongres.

Capitoll Hill adalah simbol demokrasi Amerika. Pertemuan Konggres AS, pembuatan Undang-Undang sampai pengukuhan dan pelantikan presiden terpilih berlangsung di sana. Penyerangan terhadap Capitoll Hill menandakan penyerangan terhadap eksistensi demokrasi Amerika. Demokrasi dengan kedaulatan rakyatnya ternyata tidak mampu memuaskan banyak pihak, bahkan cenderung memfasilitasi penguasa untuk berlaku otoriter. Lantaran Donald Trump selaku presiden yang tengah berkuasa menyerukan penolakan atas kekalahannya dalam pemilu dan memantik terjadinya penyerangan. Trump juga terbukti melakukan tekanan ke berbagai pihak untuk menjegal kemenangan lawan agar ia tetap berada dalam tampuk kekuasaan selama empat tahun ke depan.

Jika merujuk pada pendapat Daniel Ziblatt dan Steven Levitsky dalam How Democracies Die (2018), apa yang dilakukan oleh Trump, yakni menolak hasil pemilu yang demokratis, memperlakukan lawan politiknya sebagai musuh, mengintimidasi pers dan mendorong terjadinya kekerasan, hakikatnya telah membunuh demokrasi Amerika. Padahal Trump sendiri adalah produk dari pemilu demokratis empat tahun yang lalu. Alih-alih menjadi sistem pemerintahan yang final, demokrasi terbukti rapuh dan berpotensi membunuh dirinya sendiri.

Kerapuhan demokrasi ini bukan human error dari aktor demokrasi semata. Sebab, demokrasi tegak di atas landasan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama dipinggirkan dan dikebiri perannya dalam mengatur kehidupan. Di sisi lain manusia bebas membuat aturan yang bersumber dari akal yang serba terbatas. Betapa rusaknya kehidupan yang berjalan tanpa kendali agama. Wajar jika akhirnya melahirkan wajah-wajah penguasa otoriter yang tamak akan kekuasaan, karena demokrasi telah cacat sejak kelahirannya.

Berbeda dengan Islam, Islam meletakkan kedaulatan (hak membuat hukum) berada di tangan asy Syari’ (Allah), dan kekuasaan di tangan umat. Islam memiliki seperangkat sistem pemerintahan untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketentraman bagi umat manusia. Yang kesemua sistem itu digali dari dalil-dalil yang terperinci dan bebas dari intervensi nafsu manusia. Sementara itu, calon penguasa (khalifah) yang berhak naik ke tampuk pimpinan hanyalah orang yang memenuhi syarat in’iqad (syarat wajib bagi penguasa) serta mendapatkan baiat dari umat. Tanpa salah satu dari keduanya, ia tidak berhak memimpin negara.

Islam juga memandang bahwa kekuasaan adalah amanah berat yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Sehingga kekuasaan bukanlah ajang untuk mengeruk keuntungan pribadi sebagaimana dalam pandangan sistem sekuler. Penguasa, yakni khalifah, memikul beban untuk mengurus dan melayani umat dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah. Khalifah juga wajib menunaikan aktivitas dakwah untuk menebar risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dan menegakkan jihad fii sabilillah. Jika penguasa lalai dari tugasnya, makai a layak dicopot dari jabatan. Inilah gambaran sistem pemerintahan yang baku dalam Islam.

Dengan melihat perbandingan yang kontras antara sistem demokrasi dan sistem Islam ini, selayaknya kita semua mau membuka pikiran dan hati agar siap menerima hidayah Ilahi. Demokrasi yang rapuh dan sebentar lagi akan runtuh tidak pantas dijadikan sebagai sistem untuk mengatur kehidupan manusia, terlebih kehidupan kaum muslimin. Allah berfirman:

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?

(QS Al Maidah: 50)

Satu-satunya sistem hidup yang ideal bagi umat adalah sistem Islam, yang in syaa Allah akan segera terwujud dengan tegaknya kembali khilafah ‘ala minhaj nubuwwah.

 

Wallahu a’lamu bish showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *