Arah Solusi Negeri, dengan Kebangkitan Hakiki

Oleh: Pani Wulansary (Pengamat Sosial dan Politik)

Wakil Presiden Republik Indonesia yang juga Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin membuka secara resmi Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Ballroom Hotel Novotel, Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Rabu (26/02/2020) malam.

Hal yang disampaikan beliau dalam pidatonya megenai arah perjalanan bangsa.

“Umat Islam di Indonesia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga arah perjalanan bangsa agar sesuai dengan kesepakatan nasional atau ‘al-mitsaq al-wathani’.

Kesepakatan ini tertuang dalam Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia.

Kita tidak boleh mempunyai model negara yang tidak sesuai Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk khilafah, karena itu menyalahi kesepakatan nasional atau ‘al-mitsaq al-wathani’.

Di Indonesia, klaim Kiai Ma’ruf, sistem khilafah secara otomatis tertolak.

Bukan ditolak tapi tertolak. Kenapa tertolak karena kita punya kesepakatan nasional yaitu NKRI yang berdasarkan Pancasila.

Seperti yang kita tahu bahwa kongres umat islam indonesia (KUII) ini ibarat angin segar bagi para tokoh ulama, untuk mengembalikan kembali semangat perjuangan untuk kebangkitan umat Islam.

Ibarat oase ditengah tandusnya gurun, para ulama berkumpul untuk menyatukan suara dan berbicara mengenai masa depan umat, ditengah krisisnya kondisi saat ini.

Bagaimana tidak, menjamurnya kegaduhan di negeri ini sering terjadi, mulai dari kemiskinan, korupsi, hukum yang tidak adil, sampai pada penistaan agama.

Kegaduhan ini terus berulang, bahkan tak pernah menemui titik temu.

Berbagai solusi dicari, namun alih-alih menjadi solutif malah justru semakin menambah daftar panjang kekecewaan rakyat dan menambah masalah baru.

Seperti sudah menjadi rahasia umum, bahwasanya negara kita menerapkan aturan yang tak sesuai dengan hukum Allah, melainkan hukum Demokrasi-Sekuler buatan manusia.

Jelas, hal ini akan menimbulkan banyak masalah, sebab aturan dibuat sesuai kepentingan manusia tersebut. Bahkan, jahatnya lagi, sistem warisan kafir penjajah ini secara tidak langsung memperbudak rakyat agar menjadi pelayan para korporat asing.

Buktinya, Sumber Daya Alam (SDA) kita dikuasai asing, para cukong bebas berkeliaran, kebijakan yang pro kepada para Kapitalis, yang semakin membuktikan bahwa label antek asing aseng itu semakin melekat pada penguasa di sistem Kapitalis kini.

Disisi lain, kesadaran sistem Islam sebagai solusi negeri, selalu ditentang bahkan dibasmi bagaikan virus jahat.

Mulai dari pengebirian materi Jihad dan Khilafah di sekolah, monsterisasi Islam, dan statmen-statmen para penguasa dan ulama yang disetir asing agar salah paham terhadap ajaran Islam, seperti ungkapan Khilafah yang katanya tertolak.

Padahal sebagai seorang muslim, seharusnya Islam menjadi satu-satunya harga mati, dengan merealisasikannya dalam aturan bernegara bukan malah menolak.

Kafir Barat memang dari dulu memusuhi Khilafah dan memiliki dendam kesumat terhadap kebangkitan Islam.

Maka tak heran, Khilafah di jadikan musuh bersama dalam strateginya menhencangkan cengkraman penjajahan di setiap negeri.

Menolak lupa, mengenai peradaban Islam yang mampu menjadi solusi dalam mensejahterakan masyarakat, menjadi rujukan negara-negara lain dalam berinovasi untuk hajat hidup umat, mengatasi kriminalitas dengan tuntas, dan menguasai 2/3 dunia dalam perlindungannya selama 14 abad.

Inilah bukti keberkahan yang nyata, sebab aturan Islam diterapkan.

Hanya satu-satunya institusi yang mampu menjadi wadah mewujudkan keberkahan ini yakni Khilafah Islam.

Hal ini pun menjadi bisyarah Rasulullah yang dinantikan dan layak diperjuangkan kehadirannya.

_”Ditengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.”_

(HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))

Untuk itu, semangat para ulama dalam merumuskan kebangkitan umat Islam seyogyanya diarahkan pada kebangkitan hakiki, kebangkitan yang akan mengarahkan pada keberkahan hidup di negeri, yakni perjuangan menegakan Khilafah Islamiyah di negeri ini.

_[Wallahu’alam Bishawab]_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *