Apakah Khilafah Milik Orang Islam Saja?

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Khilafah adalah ajaran Islam yang bersumber dari Al Qur’an, Hadis dan diamalkan juga berfasarkan ijma sahabat. Khalifah adalah pengganti Rasulullah SAW.

Khalifah pertama kaum Muslimin adalah Abu Bakar as-Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Usman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra dan masih ada ratusan khalifah lainnya hingga khalifah terakhir pada periode pertama Khilafah yakni Sultan Abdul Hamid II (Turki Ustmani).

Kekuasaan Khilafah kala itu telah mencapai 2/3 dunia dengan kurun waktu 14 abad (1400 tahun). Pertanyaannya sekarang apakah Khilafah yang adidaya dan bertahan lam itu adalah milik orang Islam saja? Seperti pertanyaan sebagian masyarakat pada umumnya.

Apakah masyarakat Khilafah semuanya mutlak 100 persen orang Islam (baca: kaum Muslimin)? Apakah semua orang akan dipaksa masuk Islam, yang lelaki disunat dan perempuan wajib berjilbab?

Jika masih ada yang beranggapan seperti ini berarti kurang memahami sejarah dan termakan propaganda Barat imperialis. Islam tak pernah mengajarkan untuk memaksa orang lain masuk Islam (Lihat Q.S.Al Baqarah ayat 256). Daulah Islam yang dipimpin oleh Rasulullah SAW di Madinah memiliki masyarakat yang majemuk atau plural.

Kaum Muslimin, Yahudi dan sebagian
kaum Musyrik kala itu hidup berdampingan tanpa paksaan masuk Islam. Namun, semua setuju diatur kehidupan muamalahnya dengan sistem Islam lewat Piagam Madinah. Masyarakat Madinah setuju diatur dengan Hukum Islam dengan Rasulullah SAW sebagai kepala negaranya.

Jadi sangat keliru jika ada anggapan bahwa Khilafah hanya menghargai yang Muslim namun membenci keberagaman masyarakat (pluralitas). Khilafah merupakan negara super kala itu yang sangat melindungi hak-hak minoritas. Bahkan sejarahwan Barat Non Muslim yang memuji Khilafah yang telah melindungi dan memakmurkan warga negaranya yang Non Muslim.

T.W. Arnold ini adalah seorang orientalis dan sejarahwan Kristen. Meski dia beragama Kristen, ia ternyata memuji kerukunan beragama dalam negara Khilafah. Dalam bukunya, The Preaching of Islam : A History of Propagation Of The Muslim Faith, ia banyak membeberkan fakta-fakta kehidupan beragama dalam negara Khilafah. Ia berkata:

“The treatment of their Christisn subject by of Ottoman emperors–at least for two centuries after their conquest of greece–exhibits a toleration such as was at that time quite uknown in the rest of Eroupe (Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani–selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani–telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa).”( The Preaching of Islam : A History of Propagation Of The Muslim Faith,1896,hlm. 134)

Warga Mesir pernah meminta Khilafah untuk mengusir penjajah Romawi yang berbuat sewenang-wenang. Ketika Khilafah menguasai Mesir, orang Kristen Koptik tetap ada dan bebas menjalankan keyakinannya hingga sekarang meski Mesir mayoritasnya Muslim.

Ketika Islam menguasai Konstantinopel, para Pendeta diselamatkan tanpa ada pembantaian dan pemaksaan aqidah. Bahkan ketika Sultan Shalahudin Al Ayyubi menguasai Palestina dan mengusir tentara Salib tidak ada pembantaian berdarah. Padahal warga Kristen di Palestina waktu itu sempat berprasangka buruk bahwa Sang Sultan akan balas dendam terhadap dibunuhnya Muslim Andalusia di Spanyol akibat inkuisisi (pengadilan berdarah).

Sultan Shalahuddin Al Ayyubi berlaku baik terhadap Non Muslim bahkan menyembuhkan penyakit kepala pasukan musuh, Richard the Lion Heart (berhati singa).

Warga Khilafah Non Muslim dalam sejarah juga pernah membendung serangan tentara salib ke Khilafah Islam. Padahal, mereka seakidah. Warga Non Muslim ini membela Khilafah karena telah merasakan keadilan dan kemakmuran.

Dalam Khilafah, semua warga mendapatkan hak dan kewajiban yang sama apa pun latar belakang suku, agama dan ras nya. Dalam Khilafah, semua warga mendapatkan pelayanan kesehatan, pendidikan dan keamanan secara gratis tanpa membeda-bedakan status sosialnya.

Bahkan banyak negara Eropa kala itu mengirim sarjana muda nya belajar ke Universitas besar yang ada di Khilafah. Banyak pula warga non Muslim dari Eropa yang berobat secara gratis di wilayah Khilafah Islam pada abad kegelapan.

Jika seandainya Khilafah hanya milik orang Islam tentu sudah ada dalam sejarah pemaksaan massal orang Non Muslim ke dalam Islam. Ternyata itu fitnah. Khilafah tak pernah menginkuisisi warga Non Muslim untuk masuk Islam.

Khilafah disebarkan dengan Dakwah. Terbukti selama 14 abad, warga Khilafah yang beragam agama, suku dan bangsanya ikhlas dipimpin dengan Sistem Islam. Mereka taat kepada Khalifah Islam. Tidak seperti yang dibayangkan oleh para penentang Islam.

Malah dalam kehidupan yang serba kapitalistik sekuler ini, umat beragama di adudomba. Kaum kapitalis tertawa ketika Islam diobok-obok. Mereka senang ketika Islam distigma negatif, agar Umat takut mendakwahkan Islam dan mereka bebas menjarah SDA di negeri-negeri Kaum Muslimin.

Semoga Umat tercerahkan dan mau menegakkan Khilafah periode kedua. Khilafah yang menyatukan Kaum Muslimin sedunia dan menebar rahmat bagi semua Umat. []

Bumi Allah SWT, 4 Juli 2020

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *