Antara Khilafah, Jihad dan Sejarah Umat Terbaik

Oleh : Yulida Hasanah (Aktivis Muslimah, Tinggal di Jember Jawa Timur)

Rezim Kebingungan, Pelajaran Khilafah dan Jihad Jadi Korban

Demi deradikalisasi, apapun dilakukan oleh rezim saat ini agar ajaran dan konsep-konsep berbau islam politik dijauhkan bahkan dihapuskan dari benak umat Islam. Seperti keputusan Kementrian Agama beberapa waktu lalu yang resmi akan menghapus kurikulum tentang Khilafah dan Jihad di mata pelajaran Fikh Islam.

Namun, tak lama pasca keputusan tersebut diberitakan media. Kemenag menarik keputusannya kembali. Kemenag seakan melunak, setelah muncul penolakan dari berbagai pihak, pelajaran khilafah dan jihad tak jadi dihapus dari kurikulum. Dengan catatan, keduanya dipelajari sebatas sebagai sejarah saja. Artinya, tidak untuk ditegakkan kembali.

Salah satu pihak yang menolak dihapuskannya materi adalah PGMI (Persatuan Guru Madrasah Indonesia). Menurut Ketua Umum PGMI Syamsuddin, penghapusan konten khilafah dan perang atau jihad bukan cara terbaik menangkal paham radikal. Jika keputusan Kemenag ini terealisasi, maka akan menutupi sejarah yang pernah terjadi dalam Islam.

Khilafah dan Jihad Dalam Al quran

Sebagaimana yang telah tertulis dalam Alquran, Khilafah merupakan janji Allah SWT bahwa umat Islam ini akan kembali berkuasa di atas muka bumi.

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 55)

Sedangkan jihad, Al quran telah menyebutkannya sebagai aktivitas mulia dan begitu besar pahala bagi orang-orang beriman yang ikut berjihad. Allah SWT telah berfirman:

“Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 95)

Selain ayat di atas, masih banyak lagi ayat yang menjelaskan tentang keutamaan jihad di antaranya dalam surat Al Baqarah ayat 218, Ali Imron ayat 142, Al Maidah ayat 35, Al Anfal ayat 72, At Taubah ayat 88.

Khilafah dan Jihad, Sejarah Yang Akan Terulang Kembali

Berbicara Khilafah dan Jihad, keduanya adalah thariqah (metode) yang Islam miliki dan Allah SWT berikan kepada kaum muslimin untuk mengimplementasikan Islam secara Kaffah. Selama kurang lebih 13 abad, kaum muslimin berada di bawah naungan khilafah dengan berbagai ragam dan coraknya, mulai dari khulafaur rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah dan Bani Utsmaniyah.

Khilafah adalah konsep tata negara Islam yang menjadi cita-cita, bahkan kewajiban umat Islam. Dan jihad menjadi mercusuar Islam dalam meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Sedangkan ketiadaan keduanya selama hampir satu abad dari realitas umat Islam, membuat pemahaman terhadap khilafah dan jihadpun memudar.

Kehadiran Khilafah adalah sebuah hal yang penting bagi keberlangsungan hidup kaum muslimin. Karena tidak mungkin Islam terealisasi secara sempurna, kecuali dengan adanya khilafah. Sebuah atsar yang cukup masyhur dari Utsman bin Affan yang menekankan akan pentingnya kekhalifahan. Beliau berkata :
Sesungguhnya Allah mengubah dengan kekuasaan apa-apa yang tidak mampu diubah dengan Al-Quran.

Kedaulatan Al-Quran harus berjalan bersama dengan kekuasaan. Karena kekuasaanlah yang nanti akan menjaga Al-Quran, menerapkannya ditengah manusia, dan menjamin terlaksananya Islam secara Kaffah di tengah kaum muslimin. Keduanya berjalan beriringan dan saling menguatkan, jika salah satu tidak hadir, maka bisa dipastikan terjadinya kemunduran bagi umat Islam. Karena kekuatan yang tidak dibimbing Al-Quran akan menghasilkan kezaliman demi kezaliman, sementara Al-Quran yang tidak ditopang oleh kekuatan(kekuasaan) akan lemah dan tidak memiliki izzah.

Kemwbalinya Khilafah merupakan kabar gembira Rasulullah Saw kepada umatnya. Dan keruntuhannya secara manusiawi telah memanggil umat Islam sejak awal keruntuhan hingga hari ini untuk mengembalikan eksistensi Khilafah di tengah-tengah mereka. Hal ini tentu saja sangat berkaitan dengan solusi umat hari ini dari berbagai kemunduran seperti yang digambarkan oleh Dr. Hakim Al Mathiri di dalam tulisan beliau yang berjudul Maalimud Daulah Ar Rasyidah, menukil beberapa tulisan dari Syaikh Rasyid Ridho.

Beliau adalah orang yang mendapati dan mengamati upaya-upaya musuh Islam (terkhusus Inggris) dalam meruntuhkan khilafah. Beliau juga mendapati juga era pasca khilafah. Beliau pernah berkata di salah satu tulisannya, Kaum muslimin tidak terlalu khawatir jika masjidil harom dihancurkan, atau dilarang sholat dan haji di dalamnya. Akan tetapi kekhawatiran terbesar umat Islam adalah terhadap (runtuhnya) khilafah. Yang mana mereka mempercayai bahwa tidak ada lagi eksistensi Islam tanpa khilafah. Keinginan kuat mereka agar khilafah tetap tagk telah menyatu di dalam darah dan urat saraf mereka.

Syaikh Rasyid Ridho melanjutkan, Mereka (umat Islam) beranggapan bahwa din mereka tidak akan eksis tanpa adanya negara Islam merdeka, kuat dan mampu menerapkan syariat-syariatnya tanpa ada hadangan dan dikte dari pihak Asing. (Risalatul Khilafah 126-127)

Begitupun dengan jihad. Tanpa Khilafah, Jihad hanya bisa direalisasikan sebagai perang pertahanan saja, itupun tak disokong oleh kekuatan negara. Padahal, Islam menetapkan bahwa tujuan utama dan terpenting dari adanya syariat jihad adalah mengembalikan umat manusia kepada fitrahnya, yaitu menjadikan mereka tunduk dan taat hanya kepada Allah semata serta membebaskan mereka dari segala bentuk ketundukan dan perbudakan kepada sesama manusia. (Ahammiyah Al-Jihad karya Ali Nafi Al-Ulyani, hal: 158)

Inilah dua metode Islam yang tegaknya akan membawa rahmat dan mengembalikan umat Islam sebagai umat terbaik sebagaimana fitrah kelahirannya. Sedangkan ketiadaan keduanya menjadi sumber bencana yang akan menjadikan negeri=negeri muslim terus menerus dijajah oleh kerakusan dan kekejaman para kapitalis melalui tangan rezim-rezim neoliberal mereka. tinggal pilihan kita, umat Islam. Ingin tetap terjajah ataukah ingin kembali pada kedudukan kita sebagai umat terbaik?
Wallaahu alam bish shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *