Antara Corona dan Kelelawar

Oleh: Agnes Laura Shofa S.Pd

Dunia saat ini sedang menghadapi musuh yang kecil namun membuat masalah yang sangat besar, yakni sebuah virus. Virus ini dinamakan Corona yang lebih dikenal dengan 2019-nCoV atau Covid-19. Virus ini menyerang negara berpenduduk terbesar di dunia Cina. Rabu 18 maret 2020 tengah malam waktu setempat, menurut NHC, total mencapai 80.928 kasus. NHC dalam laporannya juga mengumumkan delapan kematian baru, dengan semuanya ada di Provinsi Hubei. Menurut data NHC, jumlah korban meninggal akibat virus corona di china daratan kini mencapai 3.245 orang (m.detik.com news. Internasional)

Hal ini menjadi kekhawatiran yang menghantui dunia saat ini. Apalagi jangkauan penyebaran virus corona yang sudah mencapai 27 negara termasuk Indonesia juga di dalamnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan virus corona wuhan sebagai darurat global. Keputusan ini di ambil dalam rapat bersama komite Darurat Medis di kantor Pusat WHO di Jenewa, Swiss,kamis (30/1). Menurut Direktur Jenderal HO Tedros Adhanom Ghebreyesus, langkah ini diambil dengan mempertimbangkan situasi penyebaran virus corona yang semakin massif.

Virus corona ini sebenarnya hidup di tubuh kelelawar. Kini telah bermutasi dan di sebarkan oleh manusia ke manusia. Kelelawar adalah satu-satunya mamalia yang dapat terbang. Dia berasal dari ordo chroptera dengan kedua kaki depan yang berkembang menjadi sayap.

Setidaknya ada delapan jenis family kelelawar. Dan kelelawar bukan lah hewan yang dianjurkan untuk dimakan Karena Allah menciptakannya sebagai hewan penyimpan virus, bahkan dalam pandangan Islam hewan ini jangan kan di makan di bunuh saja dilarang sesuai dalam hadis Rasul hadist ini shahih diriwayatkan oleh Ibnu umar, artinya : “ Janganlah kalian membunuh katak. Sesungguhnya kicauannya adalah tasbih. Dan janganlah kalian membunuh kelelawar. Sebab, ketika Baitul maqdis dibakar, kelelawar itu berdoa kepada Allah “ya Tuhan kami, kuasakan kami atas lautan sehingga aku bisa menenggelamkan mereka. Para ulama syafii’iyyah berpandangan, larangan membunuh satu hewan, menunjukkan keharaman untuk mengosumsinya.
Nyatanya di kota wuhan cina, bukan hanya kelelawar hewan liar seperti ular dan trenggiling juga di duga sebagai sumber virus corona. Itu bebas diperjualbelikan untuk dikosumsi. Pasar wuhan menjadi pusat perdagangannya. Dan yang pasti menjadi kebiasaan bagi warga di wuhan mengosumsi kelelawar dan hewan liar lainnya dan cina pada umumnya. Mereka tak membatasi makanan apapun. Sebab tidak mengenal halal dan haram seperti Islam. Dalam Islam standar makanan adalah halal lagi toyyib, selama makanan itu halal pasti itu baik bagi mereka, dan ketika ada larangan pasti ada kerusakan di dalamnya.

Dalam kondisi inilah, betapa luar biasanya Islam dengan sistem aturan kehidupannya yang kaffah (kompeherensif) mengatur manusia agar hidup bahagia dan sejahtera, serta sehat.

Sampai makanan pun di atur sedemikian rupa, tidak sekedar mengikuti hawa nafsu yang berakibat menimbulkan masalah besar pada dunia. Kembali lah kepada Islam, Karena Islam itu rahmatan lil alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *