Antara Cinta dan Harapan

M. Azzam Al Fatih (Gunung Kidul-Yogyakarta)

SuaraInqilabi– Saya mencoba menulis tentang cinta, sebab banyak orang mengenal cinta namun tak mengerti apa itu cinta bahkan ada yang tergila – gila. Eeeiiits, jangan pada baper lho ya. Cinta di sini bukan cinta Laura atau Ayu Cintya Bella, apalagi cinta tetanggamu, heeee.heeee. tapi cinta yang saya maksud tentang perasaan seseorang.

Yo’i, memang benar cinta seolah – olah menempati tempat khusus pada diri manusia. Kakek atau nenek, tua atau muda, remaja atau anak – anak bagai terhipnotis kata cinta. Siapa sih, yang gak kenal cinta? Pasti dech, semua kenal bahkan manusia pertama pun sudah mengenalnya. Mungkin karena cinta sudah menjadi sunatullahnya pada diri manusia.

Tapi anehnya, meski banyak orang mengenalnya mereka tidak tau apa itu cinta. Sehingga kebanyakan orang tertipu dengan makhluk yang satu ini.
He..he.., kadang – kadang orang yang terpapar cinta, pikirannya aneh. Coba kita pikirkan sebuah kalimat yang sering kita dengar, ” kalau cinta sudah melekat tai kucing rasa coklat”, masak sih tai kucing rasa coklat. Hemmmm, tai kucing yaa rasanya seperti – sepet kecut. Heee heeee, kayak pernah makan tai kucing loo ndroo.

Cinta memang misterius, tidak nampak namun bisa dirasakan, Akibatnya orang salah mengexpresikanya.
Dimana kebanyakan orang mengekspresikan dengan hubungan sex seperti yang terjadi saat ini.

Secara umum cinta adalah rasa ingin memberi yang lebih. Seseorang yang sedang mencintai maka ia rela memberikan apa saja. Seorang istri yang mencintai suaminya maka sang istri akan memberikan pelayanan yang terbaik.

Orang yang memberi identik dengan harapan.
Harapan yang diinginkan pun berbeda – beda tergantung dari niat awalnya. Ada yang mempunyai harapan harta benda ada pula cuma kasih sayang saja.

Namun cinta dan harapan yang didasari rasa ketaqwaan terhadap Allah Subhanahu watta ‘alla akan terasa indah karena ia bisa merasakan manisnya iman dan nikmatnya rasa syukur.
Sebaliknya cinta dan harapan yang tidak didasari ketakwaan akan terasa pahit dan kecewa. Inilah sebabnya Islam mengajarkan untuk senantiasa bertakwa dalam situasi dan kondisi apapun.

Tatkala sedang mencintai akhwat sang idaman hati maka dasarilah dengan taqwa. Dengan taqwa ia akan menyandarkan pada syariat Allah, semua cara dan perilaku terikat dengan hukum Allah Subhanahu watta ‘Alla. Begitu juga dengan harapannya. Sehingga harapa yang tidak sesuai yang diinginkan rasa kecawa pun sirna namun manis iman dan nikmatnya syukur tetaplah ia rasakan.

Cinta dan harapan, keduanya tidak bisa terpisahkan,
Ada cinta ada harapan. Namun sebaik – baik cinta dan harapan adalah yang berbuah keindahan yaitu manisnya cinta, nikmatnya syukur dan limpahkan pahala. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *