Amilatun Nashibah

Oleh: Lina Ummu Najah

Pernah gak ngalamin beli baju, eh tiba-tiba pas dilihat ternyata ada bagian baju yang reject? Entah itu bolonglah, atau jahitan gak rapih, atau terkena noda yang gak bisa dihilangkan.

Pasti kita pengen tuker dong, atau kita gak jadi beli.

Kalau saya sering banget, karena saya seorang pengusaha (mau nyebut pedagang kurang kereen ya…?), baik itu dari saya sendiri atau konsumen yang protes.

Fragmen di atas mengingatkan saya pada kisah seorang tabi’in, namanya Attha Assalami. Attha Assalami bermaksud menjual kain yang sudah ditenunnya kepada seorang pedagang.
Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang pedagang kain, lalu sang pedagang kain tersebut berkata, “wahai Attha, sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tapi sayang ada cacatnya, sehingga aku tak jadi membelinya”.

Kemudian Attha Assalami sedih dan menangis. Sang pedagang kain itu pun berkata, “apakah kau kecewa karena aku tidak jadi membeli kain yang kau buat? Kalau begitu aku akan membelinya”.

Attha menjawab, “tidak, aku tidak kecewa karena itu, tapi aku sedih karena aku menganggap kain yang aku buat itu adalah kain yang terbaik, namun ternyata ada cacatnya. Aku takut jika amalanku seperti kain itu. Aku mengira amalanku akan diterima tapi ternyata di hadapan Allah amalanku sia-sia”.

Kisah Attha Assalami tadi mengingatkan kita bahwa banyak dari kita yang beramal namun bisa jadi amal tersebut di mata Allah sia-sia karena niat dan caranya yang salah. Sehingga amalan itu seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an, yakni seperti debu-debu yang menempel di batu lalu tertiup angin. Nothing, alias gak ada apa-apanya di hadapan Allah.

Seperti dijelaskan dalam QS. Al-Ghasiyyah ayat 3 “Bekerja keras lagi bersusah payah namun sia-sia”.

Lalu bagaimana supaya amal kita diterima? Rasulullah SAW mengajarkan kita bahwa seorang muslim itu ketika beramal ada syaratnya:

1. Niatnya harus ikhlas karena Allah swt. “Sesungguhnya setiap amalan tergantung niat nya.” (HR. Bukhari Muslim)

Berbicara niat memang gampang-gampang susah ya, sengaja saya nyebut gampangnya 2 kali tapi susahnya 1 kali, karena mudah diucapkan tapi aplikasinya lumayan sulit.

Ikhlas itu memang urusan hati, makanya ia sangat mudah terjangkiti rasa ujub, riya, sombong dan ‘penyakit hati’ lainnya. Hati-hati itu semua bisa memberangus amalan kita.

Ikhlas itu hanya mengharapkan ridha Allah semata. Udah titik. Ciri orang ikhlas itu kata Aa Gym yang pertama jarang kecewa, yang kedua tidak gemar pujian. Nah lho…!

2. Caranya benar sesuai yang dicontohkan Rasulullah Saw. “Barang siapa yang melakukan amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan itu tertolak. (HR. Muslim)

Ini mah jelas ya… Wong kita adalah umatnya Nabi Muhammad saw, jadi harus mengikuti beliau.

Misal karena ingin agar pahala sholatnya banyak, lalu sholat subuhnya 4 rakaat. Hahaha, ini jelas menyimpang, tidak sah sholatnya, dan jelas amalannya tertolak.

So, sudah sepatutnya kita terikat dengan hukum Allah yang 5 itu, yaitu wajib (nomor 1), sunnah (perbanyak), mubah (kurangi), makruh (tinggalkan biar berpahala), dan haram (campakkan).

Kedua syarat tadi mutlak harus ada, jika salah satunya tidak ada atau tidak terpenuhi, maka amalannya tertolak.

Yuk perbaiki niat kita dan caranya karena amal pun perlu ilmu dan guru biar ada yang menuntun. Makanya, yuk ngaji…!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *