Amankah Sekolah Dibuka?

Oleh: Aisyahtini Lubna Naimah (Aktivis Dakwah Kampus Surabaya)

Wacana kehidupan baru dalam new normal akan segera dilaksanakan dan kembali lagi ke sekolah juga akan segera terlaksana. Dilansir dari Kumparan.com (1/06/2020). LAPSUS (Laporan Khusus) dengan judul : Tahun Ajaran Baru akan Dimulai, 127 Anak di Surabaya Positif COVID-19. Fakta ini diungkapkan Koordinator Protokol Komunikasi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya, M Fikser. “Kemarin (30/5) ada tambahan delapan kasus. Untuk anak usia 0-4 tahun ada 36 kasus, sementara anak usia 5-14 tahun ada 91 kasus. Jadi sekarang total ada 127 kasus anak yang terinfeksi COVID-19,” ungkap Fikser ketika ditemui Basra, Minggu (31/5).

Kehadiran virus yang mematikan ini membuat semua resah. Makhluk kecil tapi berbahaya ini memaksa warga di seluruh dunia untuk beradaptasi dengan virus Covid-19 ini, termasuk juga dalam dunia pendidikan. Proses pembelajaran di sekolah yang dulunya tatap muka sekarang berubah menjadi BDR (Belajar dari rumah). Tentunya hal ini menimbulkan reaksi pro dan kontra yang bermacam-macam dari para wali murid. Mulai dari sinyal yang sulit untuk dijangkau, kuota yang mahal, bahkan tidak sedikit dari para wali yang kesulitan karena tidak punya gawai canggih.

Tidak dapat dipungkiri, keberadaan anak-anak merupakan salah satu objek yang rentan terkena virus Covid-19 Ini. Apalagi konsep normal yang digadang-gadang pemerintah hanyalah ilusi. Karena faktanya jumlah penderita Corona sekarang semakin meningkat. Pemerintah berharap bisa kembali mengaktifkan fasilitas publik seperti sebelum Covid 19 menyerang, walau tetap dilakukan dengan protokol kesehatan, rencana ini justru akan berpeluang meningkatkan penyebarannya. Apalagi untuk anak-anak, mereka agak susah diatur untuk menjaga jarak dengan temannya dan mereka juga akan merasa tidak nyaman. Masyarakat belum tumbuh kesadaran untuk mematuhi peraturan kesehatan, ini bisa kita lihat di lingkungan sekitar kita di mana banyak juga yang belum menggunakan masker, ada juga yang tidak mencuci tangan setiap habis keluar rumah.

Meliburkan sekolah dan kuliah, kemudian beralih ke daring adalah tindakan yang tepat. Kekhawatiran orang tua atau wali murid untuk melepaskan buah hatinya kembali ke sekolah di tengah pandemi Corona yang masih mengancam seperti saat ini, terjadi pada sebagian besar orang tua di Indonesia. Selain itu, banyak juga kendala yang dihadapi saat daring, seperti keterbatasan gawai, tidak menjadi kebutuhan pokok untuk membeli kuota dan susah sinyal.

Internet sudah menjadi kebutuhan pokok di era pandemik seperti saat ini, sama seperti sembako. Sudah banyak kisah perjuangan murid dan mahasiswa untuk mendapatkan sinyal. Ada juga yang berjalan berkilo-kilo meter menembus hutan untuk mendapatkan sinyal, ada yang terpaksa ke desa sebelah setiap kali ingin mengirim tugas secara online atau daring. Bahkan ada seorang mahasiswa sampai harus memanjat menara Masjid sampai terjatuh dan akhirnya meninggal dunia. Hal ini miris, tapi nyata adanya.

Dari fakta permasalahan di atas, bisa disimpulkan bahwa pemerintah belum siap menjalankan sistem pendidikan daring. Oleh karena itu, masyarakat butuh solusi yang benar-benar solutif untuk menjalankan pendidikan di masa pandemi ini.

Islam agama yang berasal dari sang pencipta manusia titik adalah agama yang sempurna yang akan menebarkan Rahmat ke seluruh alam dimana satu-satunya institusi yang mampu menerapkannya adalah Khilafah. Di era wabah Corona seperti saat ini ya Khilafah akan memastikan ketersediaan jaringan internet di seluruh pelosok wilayah sehingga mahasiswa dan anak-anak bisa menikmati kuliah secara daring. Bagi yang tidak punya gawai Android untuk belajar maka Khilafah akan mencukupinya pula sehingga tidak akan ada alasan untuk tidak bisa mengenyam pendidikan walaupun di tengah pandemi seperti saat ini.

Dengan penerapan syariat Allah secara menyeluruh dengan Khilafah sebagai penjaganya, pendidikan daring maupun offline atau formal tidak akan terkendala sedikitpun. Hal ini disebabkan hanya Khilafahlah yang mampu nya kewujudkannya. Karena hanya Khilafah lah yang mampu mewujudkan nya karena didukung dengan melalui penerapan sistem ekonomi Islam sehingga mampu memberikan dukungan dana yang bersumber dari baitul mall, tapi tidak akan pernah ada dalam sistem seperti saat ini yang menerapkan sistem ekonomi kapitalistik.

Wallahu A’lam Bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *