AMALAN MULIA DI BULAN RAJAB

Oleh: Ummu Sazana (Pendidik Generasi)

 

Waktu terus bergulir, hari terus berganti. Allah SWT dengan hikmah-Nya telah memuliakan dan mengutamakan sebagian waktu atas waktu yang lain, mengutamakan sebagian tempat atas tempat yang lain, dan memuliakan bulan-bulan haram atas bulan lainnya. Nabi Muhammad SAW kemudian memberikan penjelasan mengenai bulan-bulan haram tersebut dalam sabdanya.

Diriwayatkan dari Abu Bakrah bahwa Nabi SAW bersabda, “Masa telah berputar seperti keadaannya ini dari semenjak Allah menciptakan langit dan bumi, satu tahun itu 12 bulan, di antaranya empat bulan suci, tiga bulan berturut-turut; Zulqa’dah, Zulhijjah dan Muharram, serta bulan Rajab mudhar yang terletak antara bulan Jumada dan Sya’ban.’’ (HR Bukhari dan Muslim).

Sebab, bulan itu disebut sebagai bulan haram dan dimuliakan karena pada bulan tersebut diharamkan melakukan peperangan kecuali jika diserang. Dan, melakukan perbuatan yang diharamkan pada bulan-bulan itu dosanya lebih besar dibandingkan bulan lainnya. Begitu juga amal shalih dan pahalanya (yang dilakukan pada bulan-bulan haram tersebut) juga sangat besar (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Îmân, III/370). Bahkan Imam asy-Syafii—rahimahulLah—telah  melipatgandakan diyat (uang tebusan) atas pembunuhan karena keliru (qatlu al-khatha’) yang dilakukan pada bulan-bulan haram karena bersandar pada riwayat dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas. Inilah di antara kemuliaan bulan haram, pahala dan dosa dilipatgandakan.

Saat ini, kita ada di salah satu bulan haram tersebut. Inilah Rajab bulan yang mulia. Telah banyak kemuliaan bagi kaum Muslim terealisasi di bulan Rajab ini, yakni:

1. Hijrah pertama kaum Muslim ke Habasyah pada tahun ke-5 kenabian.

2. Isra’-mi’raj Rasul Saw pada tahun ke-10 kenabian. Dalam peristiwa itulah, Nabi saw menerima titah kewajiban shalat sekaligus dikukuhkan sebagai pemimpin bagi seluruh umat manusia. Nabi Saw didaulat menjadi imam para nabi dan rasul terdahulu di Baitul Maqdis.

3. Nabi Saw bertemu pertama kali dengan kaum Anshar. Melalui tangan kaum Anshor inilah Negara Islam pertama tegak di Madinah. Sejak itu seluruh hukum syariah pun bisa diterapkan secara total.

4. Momen istimewa peralihan kiblat kaum Muslim, dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, III/252-253).

5. Penaklukan dan pembebasan kota Damaskus (Syam) dibebaskan oleh kaum Muslim di bawah panglima Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah ra. dan Khalid bin al-Walid ra. pada bulan Rajab tahun 14 H/635 M.

6. Baitul Maqdis berhasil direbut kembali oleh kaum Muslim pada bulan Rajab, tepatnya pada 28 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M, di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi, setelah mereka mengalahkan tentara Salib dalam Perang Hittin. Saat itu pun azan kembali dikumandangkan dan shalat Jumat kembali dilaksanakan di Masjid al-Aqsha setelah 88 tahun diduduki tentara Salib.

Kaum Muslim dulu telah begitu rupa memuliakan dan menjaga kehormatan bulan haram, termasuk Rajab. Pada bulan ini mereka mempersembahkan amal-amal mulia dan spektakuler serta prestasi monumental yang dicatat dengan tinta emas sejarah untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslim.

Karena itu seyogyanya kaum Muslim saat ini pun memuliakan bulan-bulan haram, termasuk bulan Rajab ini, dengan melipatgandakan amal-amal terbaik. Bagaimana caranya?

Pertama: berhentilah menyalahi hukum Allah SWT, yang bisa mendatangkan murka-Nya. Stop riba. Jauhi hasad dan dengki. Tinggalkan caci-maki. Jangan langgar hak orang lain. Tinggalkan kezaliman.
وَلاَ تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka… (TQS Hud [11]: 113).

Kedua: Laksanakan amal-amal shalih, kerjakan semua kewajiban-kewajiban Allah SWT dan perbanyak amalan-amalan sunnah. Yang juga termasuk amal shalih adalah menunaikan fardhu kifayah. Tidak hanya mengurus jenazah, tapi mengangkat pemimpin umat Islam yang menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Alhasil, marilah kita jadikan momentum Rajab ini untuk mengokohkan tekad, menggelorakan semangat dan berpartisipasi semaksimal mungkin untuk mewujudkan penerapan syariah Islam secara kaffah. Itulah wujud hakiki ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ketakwaan seperti inilah yang bakal mewujudkan aneka kerbekahan dari langit dan bumi bagi manusia.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Andai penduduk negeri beriman dan bertakwa, Kami pasti akan membuka untuk mereka ragam keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (Kami). Karena itu Kami mengazab mereka karena perbuatan dosa yang telah mereka lakukan itu (TQS al-A’raf [7]: 96).

Semoga Allah senantiasa istiqamahkan kita di jalan-Nya. Aamiin

Wallahua’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *