Aktifis Islam kembali ditangkap, Pakistan Negara Islam?

Oleh: Nahdoh fikriyyah Islam (Dosen dan Pengamat Politik, dari Kalimantan Utara)

Pakistan – Seorang ayah yang polos dan tulus telah diculik dan dibawa oleh agen kemamanan Pakistan. Diketahui pria tersebut bernama Abdul Hadi. Ia adalah seorang aktifis Islam yang hanya ingin menyampaikan kebenaran seperti apa model Negara Madinah sesungghunya. Karena hal tersebut selalu disampaikan oleh perdana menteri Pakistan dalam setiap pidatonya. Abdul Hadi suka memberi bantuan untuk meringankan penderitaan ummat. Ia juga menyampaikan agar sanksi hukum bagi pelaku koruptor ditegakkan.

Kabar penagkapan Abdul Hadi diperoleh dari ibu mertuanya, Rehma Sultan. Kabar tersebut disebarkan melalui akun media sosial hingga meluas dan diketahui oleh masyarakat Pakistan. Pesan tersebut berbunyi, “menantu ku telah diculik illegal dari rumahnya di Pakistan sudah satu bulan. Saya meminta kepada seluruh keluarga dan rekan-rekan untuk berdoa untuk kembalinya menantu kami dengan selamat dan segera”.

Pakistan seperti Negara Madinah (Islam)?

Kabar ditangkapnya kembali seorang aktiifis Islam, Abdul Hadi, menambah catatan hitam kasus memalukan yang menimpa internal Negara Pakistan.

Negara ini tidak henti-hentinya memburu para aktifis Islam yang vokal menyuarakan kebenaran Islam. Abdul Hadi bukanlah satu-satunya aktifis Islam yang telah ditangkap dan diculik oleh agen rahasia Pakistan tanpa alasan yang jelas. Sederetan nama-nama mereka seperti Naveed Butt yang bahkan hingga hari ini tidak ada kabar yang jelas dimana lokasi penahanannya dan apakah masih hidup. Kesalahannya juga sama dengan Abdul Hadi, sama-sama menyuarakan kebenaran Islam yang komprehensif dan bukan parsial ala Negara Republik Pakistan.

Kemudian ada Dr. Aafia Assiddiq, seoarang intelektual muslimah yang dijadikan tahanan politik di Guantanamo. Tidak ada yang tahu persis kesalahan fatal apa yang ia lakukan hingga harus mendekap di neraka yang diciptakan Amerika itu. Lalu menyusul seorang pengacara yang juga berani menyampaikan kebenaran, Muhammad Umar. Sempat diculik dan kemudian dibebaskan oleh pemerintah Pakistan karena tidak ada bukti kuat untuk lasana penahanan. Tak cukup sampai disana, sepasang suami istri yang bertugas sebagai dokter, dr. Roshan Enam juga diangkut dari rumahnya. Rumah kediamannya digeledah bak rumah teroris. Hanya karena ia dan keluarganya adalah orang-orang yang peduli dengan nasib ummat Islam dan berani menyampaikan kebenaran serta membongkar kejahatan pemikiran–pemikiran barat yang merasuki masyarakat muslim Pakistan.

Itulah gambaran pemerintahan Negara Pakistan. Baik sebelum Imran Khan naik tahta maupun sekarang saat ia berkuasa. Penangkapan dan penculikan aktifis Islam terus dilakukan. Seolah- olah tidak boleh ada kritik yang menuju pemerintah atau menyampaikan kebenaran Islam secara totalitas.

Bagaimana mungkin dalam suatu Negara tidak ada kritik? Apalagi jika kebijakan-kebijankannya mengebiri hak-hak rakyat? Memandulkan fungsi Allah dalam membuat aturan? Pasti, Negara tersebut akan dibanjiri kritik-kritik dari kalangan kelompok masyarakat yang idealis. Adakah sama Negara Madinah yang dibangun Rasulullah saw dengan Negara Pakistan hari ini? Apakah yang mengkritik (amar maruf) pernah ditangkap di Negara Madinah? Lalu, layakkah Pakistan disebut sebagai Negara Islam? Jika menyampaikan kebenaran Islam dianggap sebagai sebuah kejahatan?

Sekuler-Kapitalis Adalah Sumber Utama Masalah Pakistan!

Penangkapan para akstifis Islam atau tokoh-tokoh yang vokal dalam menyampaikan kebenaran adalah ciri pemerintahan yang diktator. Sebab, pemerintahan yang diktator tidak akan mampu menerima kebenaran dari bawah (rakyat). Kebenarana hanya mutlak milik penguas dan kalangan elit parpol juga pengusaha. Jika ada yang berisik dan mengganggu kebijakan meraka, maka Negara tersebut akan berubah jadi tangan besi yang siap mendzalimi rakyatnya sendiri. Bahkan jika itupun rakyat yang seiman dengannya. Dikatator itu muncul karena merasa kepentingannya terganggu. Kepentingan yang bukan hanya melibatkan posisi atau jabatan, tetapi kepentingan di balik layar yang meluncurkannya memiliki jabatan.

Pesanan demi pesanan telah ditandatangani. Maka, dengan segala cara akan dimuluskan. Bagi para pengganggu, akan ditindak sampai tidak berisik lagi. Begitulah gambaran Negara dikatator.

Ketika suatu Negara mengadopsi ideologi Kapitalis, maka Negara tersebut akan melahirkan model pemerintahan yang diktator. Hampir semua negeri muslim pasac runtunhya kekhilafahan tahun 1924 di Turkey telah memngambil sekulerisme-kapitalisme sebagai pandangan hidup bernegara. Akibatnya, penguasa yang boleh memimpin tanah kaum muslimin adalah mereka yang bisa dijadikan boneka-boneka kapitalis global. Tidak terkecuali yang menimpa Negara Pakistan. Modal dan restu dari Tuannya Amerika dan sekutunya adalah syarat utama menjadikan siapapun yang berhasrat menduduki jabatan tertinggi. Deal-deal pun harus disepakati sebelum pemenangan disetting. Karena kapitalis global seperti Amerika tidak pernah ingin hengkang dari namanya sebagai “ Adidaya Kuasa”. Dan Pakistan adalah salah satu Negara dalam cengkaraman Amerika. Meski lebel “Negara Islam Pakistan “ diberikan, namun wajah Negara Islam sesungguhnya justru telah dirusak disana. Bom bunuh diri tak kunjung henti, pemerkosaan, pergaulan bebas, korupsi, feminisme, dan juga pembunuhan sesama muslim. Lalu, hukum yang berlaku juga bukanlah syariat Islam secara totalitas. Ditambah kini Paksitan juga telah melirik China dan Israel sebagai mitra modal hutang. Adakah Negara Islam melakukan kerjasama dengan Negara kafir harbi? Selian itu ternyata Pakistan juga tercatat sebagai Negara yang penghutang luar negeri di IMF. Bukankah hal tersebut akan menambah sulit bagi Pakistan untuk lepas dari campur tangan asing yang selama ini telah bercokol sejak Pakistan merdeka?

Negara Madinah ala Rasulullah saw Layak Dicontoh oleh Pakistan Secara Total.

Pidato unggulan perdana menteri Pakistan, Imran Khan telah membuat mayarakat Pakistan terlena dan terbuai mimpi. Imran Khan telah mengatakan bahwa ia akan membawa Paksistan seperi Negara Madinah yang didirikan oleh Rasulullah saw. Sebuah ide yang bagus dan pastinya kewajiban seoarang penguasa mencontoh model Negara yang telah dididrikan Rasulullah saw.

Apalagi pidato itu disampaikan di hadapana masyarakat yang 99% adalah muslim. Namun, jika Imran Khan memimpikan Negara Islam tetapi tetap mengadopsi sekuler-kapitalis, maka hakikatnya ia hanya berhayal. Tidak akan mungkin ada dua idelogi dalam satu Negara yang mandiri dan maju.

Negara Madinah yang didirikan Rasulullah saw (dawlah Islam) adalah Negara yang berdiri tegak diatas pondasi mabda’ Islam. Syariat adalah hukum-hukumnya dan tidak bercampur dengan hukum kufur Barat. Mengatur interaksi dan perjanjian dengan orang-orang kafir yang bersedia menjadi warga Negara Islam, juga dengan Negara-negara tertentu dalam bentuk kerjasama muamalah. Serta memutus hubungan mutlak dengan Negara kafir harbi seperti Amerika, Israel, dan China.

Negara Islam tidak akan pernah menculik dan menangkap para akiifis Islam. Karena Negara Islam juga pasti akan menuai kritik ketika Khalifah lalai dalam menjalankan amanah ummat. Bahkan hal tersebut akan subur ditangah-tengah masyakarat Islam. Muhasabah lil hukkam adalah kewajiban setiap muslim.

Negara Islam Madinah adalah negara yang melindungi kehormataan muslimah. Bukan seperti yang dilkukan pemerintah sekuler Pakistan, malah menjualnya ke China dengan modus pernikahan. Padahal, menikahi lelaki tidak seiman hukumnya haram dalam syariat Islam. Sungguh tega pemerintah Pakistan melakukannya.

Secara potensi alam, penduduk dan militer juga persenjataan, Pakistan tergolong layak menjad cikal bakal berdirinya kembali sebuah Negara berdasarkan Islam. Hanya jika, pemerintah Pakistan dan masyarakat muslim disana berani melakukan dua hal. Pertama, memutuskan ketergantungan dan semua hubungan politik dengan Amerika dan China juga sekutu-sekutunya Kedua, baik pemerintah Pakistan maupun seluruh lapisan masyaraat, bersedia menerima dan menerapkan Islam secara totalitas.

Menjadikan Islam sebagai ideologi negaranya dan hukum yang berlaku hanyalah syariat Islam yang mulia. Dengan dua hal tersebut, impian perdana meneteri Imran Khan akan terwujud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *