Air Mata Rumah Tangga, Air Mata Poligami

Oleh : Kholda Najiyah

Kisah poligami lagi-lagi menguras emosi. Memanggil emak-emak sejagat maya yang terlanjur ikut sakit hati. Mereka bergerak trengginas. Mengeduk dunia maya hingga aib pun terbuka.
.
.
Ya, berbekal tagar #truestory terbongkarlah para pelakon #layanganputus. Padahal penulisnya tidak berniat membuka identitas. Sekadar menumpahkan pengalaman pahit hidupnya. Ya, pengalaman hidup adalah sumber cerita paling otentik di dunia ini. Tidak ada yang berhak melarang orang bercerita. (Asalkan, dalam norma agama, bukan membuka aib pribadi).
.
.
Namun, mungkin inilah cara Allah “menjewer” siapa yang dikehendaki-Nya. Allah hendak mengingatkan siapa-siapa yang berusaha menyimpangkan syariat-Nya. Yang berbuat zalim atas nama halal. Entah dalam kasus ini siapa, tetapi semua tampaknya sudah mampu meraba.
.
.
Ya, semua paham, poligami boleh dalam ajaran Islam. Namun, lihatlah betapa banyak yang kurang ahsan dalam mempraktikkannya. Seperti tidak berkomunikasi dulu baik-baik dengan istri sebelumnya. Berbuat aniaya, bahkan bersikap tidak adil setelahnya. Akibatnya, poligami yang disalahkan.
.
.
Pekan lalu, ketika saya sharing “Romantika Rumah Tangga” saya pun memberi contoh beberapa rumahtangga yang bubrah. Baik monogami maupun poligami. Salah satu pelaku yang cerita langsung ke saya, cukup ngenes. Bagaimana ia diperlakukan tidak adil oleh suami, namun masih bertahan. Saya hanya bilang, tunggu saja Allah akan “menjewer” siapa yang salah.
.
.
Ya, lakon poligami yang buruk-buruk inilah yang rata-rata terbongkar. Mungkin karena Allah hendak meluruskan. Mengingatkan untuk menjadi pelajaran para pelaku maupun yang lainnya. Tetapi, pelakon yang baik-baik rumah tangganya juga banyak. Biasanya tidak terekspose. Terjaga aibnya. Sebab, sudah lazimnya berita yang menarik itu jika ada unsur dramatis di sana.
.
.
Nah, tulisan ini bukan untuk ikut menghakimi siapa-siapa. Hanya respons spontanitas saja. Percayalah, setiap rumahtangga menyimpan airmata. Bahkan yang sudah mapan, kaya dan terkenal sekalipun. Apatah lagi kita, yang bukan siapa-siapa.
.
.
Ah, semoga rumahtangga kita, monogami atau poligami, tetap berjalan pada koridor syariat. Supaya Allah Swt. tetap menjaga aib rapat-rapat. Sebab di era digital seperti ini, sungguh begitu mudah aib terbongkar. Apalagi jika Allah Swt. sendiri yang menghendakinya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *