Afghanistan Negeri Kaya dengan Seribu Satu Masalah

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh Leihana (Ibu Pemerhati Umat)

 

Timur tengah khususnya Baghdad di Irak di kenal dengan negeri seribu satu malam, karena kekayaan peradaban dan budayanya yang tumbuh lebih awal sebelum revolusi Industri di Eropa. Lain halnya dengan Bagdad di Irak, kini negara Afganistan yang luar biasa kaya sumber daya alamnya juga dikenal dengan negeri seribu satu masalah. Permasalahannya tak pelak dirundung konflik dalam negeri Afganistan yang sulit berhenti. Ibaratnya keluar dari kandang macan masuk ke mulut buaya.

Setelah penguasaan panjang dari Amerika Serikat dengan alasan membasmi terorisme yang bercokol di pemerintahan Taliban di Afganistan, saat ini Afganistan kembali ke pangkuan pemerintahan Taliban seutuhnya. Namun, jangan dikira jika sudah di tangan Taliban rakyat Afganistan akan aman sejahtera menikmati kekayaan negerinya. Justru selepas penguasaan AS Afganistan menjadi incaran negara kapitalis lainnya . Hal ini dilakukan untuk menguasai kekayaan alam Afganistan.

Selama ini, China menjadi rumah utama dan produsen logam tanah jarang. Para ahli memperkirakan kemungkinan China akan menjadi mitra bisnis yang dapat dituju oleh Taliban setelah kelompok itu menguasai Afghanistan.
Beijing telah menjangkau kepemimpinan Taliban pada bulan Juli, jauh sebelum runtuhnya pemerintah yang didukung AS di Kabul, dan telah menjadi salah satu dari sedikit kekuatan besar yang tetap membuka kedutaannya di ibu kota Afghanistan dalam beberapa hari terakhir.(radarsukabumi.com, 21/8).

Potensi Aset kekayaan alam yang berasal dari Afganistan dapat mengubah nasib Afganistan dari negara termiskin menjadi negara kaya, hanya saja belum pasti berlimpahnya aset tersebut bisa dinikmati oleh penduduk asli Afghanistan sendiri. Padahal nilai potensinya bukan jumlah kecil.

Jatuhnya Afghanistan ke tangan rezim Taliban secara otomatis mengalihkan penguasaan atas kekayaan mineral tambang di negara itu. Potensi ekonominya bahkan mencapai 1 triliun dollar AS atau setara Rp 14.000 triliun (kurs Rp 14.000).(kompas.com, 20/8) .

Aset yang luar biasa besar ini membuat air liur negara-negara besar menetes, tentu saja selain AS yang mundur teratur dari Afganistan masih ada China dan Rusia yang sudah lama mengincar untuk menguasainya.
Seperti republika.co.id dikutip dari Pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban memperlihatkan kebersamaan Rusia dan China. Kedua negara, di samping Iran dan Pakistan, telah membuka kedutaan mereka dan berkomunikasi secara teratur dengan perwakilan Taliban, walaupun belum mengakui Taliban secara resmi.

“China selama ini memelihara kontak dan komunikasi dengan Taliban Afghanistan atas dasar menghormati sepenuhnya kedaulatan Afghanistan dan kehendak semua faksi di negara itu, dan memainkan peran konstruktif dalam mempromosikan penyelesaian politik masalah Afghanistan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying, dilansir dari The Week,  (republika.co.id,18/8).

Dari pergantian kekuasan di Aghanistan, terungkap bahwa kekayaan Sumber Daya Alam dan Energi (SDAE)yang melimpah menjadi incaran perebutan oleh negara-negara Barat maupun Timur yang memiliki tujuan eksploitatif.

Karena tidak adannya junnah (pelindung) yaitu negara pemersatu seluruh umat Islam berupa institusi khilafah. Ketiadaan institusi maka akan terus tercipta kondisi krisis agar fokus umat pada terjadinya konflik-konflik internal dan abai terhadap skenario perampokan sumber daya alam. Seperti yang terus terjadi di Palestina dan Afghanistan umat Islam di sana terus disibukkan dengan konflik internal perebutan kekuasaan dari negara-negara yang bertujuan merampok kekayaan negerinya.

Umat membutuhkan kepemimpinan Islam yang satu untuk seluruh dunia. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya dalam. Institusi Khilafah Utsmani contohnya telah mempersatukan Umat Islam di dua pertiga dunia luas wilayahnya. Seluruh wilayah yang bersatu dalam pengaturan daulah khilafah tunduk dengan aturan syariah Islam yang sempurna sehingga setiap kebijakab tidak mengandung tujuan penjajahan ekonomi maupun pemikiran setiap kebijakan ditujukan untuk kemaslahatan Umat sehingga tercipta Rahmat bagi Seluruh Alam.

Dengan kembalinya khilafah mengatur seluruh negeri muslim akan berulang pula negeri seriba satu malam yang penuh dengan rahmat membawa harum peradaban Islam seperti di Irak yang pernah menjadi ibu kota Khilafah.
Maka tidak ada lagi negeri seribu satu masalah seperti halnya Afghanistan dan Palestina.

Wallahu a’lam bishshawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.