Action RI atas Pandemik Covid-19

Oleh: Mia Fitriah Elkarimah

Angka penularan COVID-19 di Indonesia terus menurus naik, social distancing dan lockdown beberapa tempat kerja dan sekolah sudah diupayakan pemerintah, untuk menghambat laju penyebaran.

Kegiatan belajar mengajar di sekolah diganti dengan belajar jarak jauh atau daring selama 14 hari.

Kemendikbud pun menyiapkan sejumlah dukungan untuk mempelancar proses tersebut dengan menggandeng tujuh platform belajar online,
Setiap platform akan memberikan fasilitas yang dapat diakses secara umum dan gratis.

informasi bulan lalu, ketika virus pandemik ini telah menyebar ke berbagai belahan dunia, tak terkecuali Asia Tenggara. Namun, Indonesia belum ada laporan yang terpapar, ditambah menurut Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto pada liputan6 (16/02/2020), bahwa imunitas yang dimiliki warga negara Indonesia terbilang sangat baik.

Tapi ternyata tidak terbukti, di awal bulan Maret Presiden Joko Widodo menyatakan ada dua kasus positif terinfeksi COVID-19 di Depok yang diduga tertular dari warga negara Jepang yang terbang dari Malaysia. (CNBC Indonesia, 02/03/2020). Lalu, setelah itu jumlah kasus baru terus meningkat dengan cepat dan berlipat-ganda.

Seperti dilaporkan merdeka.com (21/03/2020) Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto memaparkan, ada penambahan kasus baru 81 orang. Sehingga total kasus 450 orang. Jumlah kasus sembuh 20 orang. Kemudian ada penambahan kasus kematian 6 orang. Sehingga total yang meninggal 38 orang.

Ini tercatat dan dilaporkan, dan bagaimana yang belum terdeteksi; belum di tes. Saat ini tes laboratorium diutamakan bagi dua kelompok orang saja, yakni orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP).

Yuri menjelaskan dasar pemeriksaan laboratorium hanyalah untuk melihat seseorang
apakah dia menjadi
spot penularan atau tidak (suara.com 5/03/2020).

Pemerintah sedang menyiapkan skenario terburuk dalam menangani penyebaran virus corona Covid-19. Ini agar jumlah penderita dapat terus ditekan dengan langkah yang tepat dan sesuai kemampuan pemerintah, yang seharusnya kita apresiasi.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mempercepat penyelesaian rumah sakit darurat bagi pasien terinfeksi virus corona di Wisma Atlet Kemayoran. Dilaporkan dari situs Liputan6.com, (21/3/2020)

Presiden Joko Widodo juga memberikan angin segar, dengan memesan obat yang diyakini bisa jadi obat Corona (suara.com 20/03/ 2020).

Walaupun WHO mengatakan klaim peneliti China belum cukup membuktikan bahwa obat ini; Avigan dan Chloroquine bisa menyembuhkan Corona.

Action berikutnya, pemerintah menyiapkan satu juta tes cepat (rapid test) untuk mendeteksi dini virus corona. Walaupun itu menuai kontroversi di sebagian kalangan. Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia termasuk yang menolak rapid tes. (CNNIndonesia 21/03/2020)

Virus yang terbukti telah mengantarkan ribuan orang ke keranda mayat ini lambat laun memecut
kesadaran masyarakat untuk menghindari kerumunan, membatasi mobilitas diluar, ibadah pun dirumah, mengganti Sholat Jumat dengan dzuhur sesuai fatwa MUI semua ini merupakan tindakan preventif.

Tindakan itu seharusnya didukung pula jaminan atau tersedianya kebutuhan pokok dari pemintah lantaran mempengaruhi sejumlah mata pencaharian profesi yang akan hilang dan tidak bisa memenuhi kebutuhan.

Seperti para driver ojek online yang kian sepi orderan, pedagang kaki lima, bahkan pedagang dengan toko yang lebih besar pun akan terkena imbasnya, nasib sopir angkutan hampir mirip dengan nasib para tukang ojek, pegiat pariwisata dan perjalanan.

Karena tidak ada yang menjamin kebutuhan pokok mereka.

Semoga pemerintah akan memberikan solusi yang terbaik karena wabah ini bukan hanya masalah kesehatan saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *