Abainya Negara Muslim Terhadap Umat Islam di India

Oleh: Dian (Muslimah Pemerhati Umat)

Baru-baru ini kaum muslimin di sebagian penjuru dunia sedang menghadapi berbagai permasalahan, yakni saudara muslim di India menghadapi kekerasan dari Hindustan yang menewaskan tidak sedikit kaum muslimin dan masjid pun dibakar. Sungguh miris saat saudara muslim di india diserang karena ke Islamannya, namun tidak ada negara muslim di wilayah lain yang peduli dan memberikan bantuan dengan melepaskan mereka dari masalah tersebut.

Jakarta, CNN Indonesia- Pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi meminta agar seluruh tokoh dan umat beragama di Indonesia untuk menahan diri dan tak bersikap emosional menyikapi insiden bentrok antara umat Hindu dan Muslim di India beberapa hari terakhir.

Kepada semua tokoh dan umat beragama, baik di India maupun di Indonesia, Menteri berpesan untuk menahan diri dan tidak terpancing melakukan tindakan emosional kata Fahrul Razi dalam keterangan resminya, Jumat (28/2/2020).(https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200229030638-20-479261/menag-minta-tokoh-agama-tahan-diri-soal-konflik-hindu-muslim?utm_source=facebook&utm_medium=oa&utm_content=cnnindonesia&utm_campaign=cmssocmed)

Ucapan Menteri Agama sangat berseberangan dengan apa yang dikatakan pengamat politik dan sosial Muhammad Yunus Hanixs dalam pernyataan kepada suara nasional, Ahad (1/3/2020). Ia mengatakan Jokowi harusnya menunjukkan rasa solidaritas terhadap muslim di India.

Kata Yunus, Indonesia bisa menggunakan pengaruhnya di dunia Internasional untuk mengecam pembantaian muslim di India. Indonesia bisa menggalang negara-negara muslim untuk mengecam India. Ada kemungkinan Jokowi takut hubungan dengan India retak akibat mengecam pembantaian muslim di negeri Bollywood, pungkasnya.(https://suaranasional.com/2020/03/01/diam-pembantian-muslim-di-india-pengamat-jokowi-kecewakan-umat-islam/)

Sungguh miris mendapati tanggapan penguasa di negeri muslim. Sikap penguasa terhadap umat muslim di India, dengan adanya kebijakan tersebut membuktikan ikatan nasionalisme yang bercokol dalam diri penguasa muslim sedemikian kuatnya hingga menganggap tidak boleh ikut campur urusan dalam negara-negara lain. Dengan alasan persoalan dalam negeri tersebut bukanlah masalah kita. Sekat-sekat yang diemban negara dengan ikatan nasionalisme telah melunturkan persaudaraan umat Islam. Sehingga pada akhirnya membuat solidaritas terhadap muslim di India jauh dari menunjukkan sikap pembelaan yang utuh sebagai sesama muslim.

Diamnya penguasa membuktikan bahwa penguasa Islam abai terhadap umat Islam di India. Ormas Islam dan penguasa muslim lainnya pun masih bersikap basa-basi sebagaimana rekomendasi dalam kerangka diplomat Barat.

Melihat para penguasa negeri muslim duduk manis tanpa berbuat apa-apa dengan semua kekuatan militernya. Ditambah lagi dengan sikap mereka yang hanya memandang sebelah mata menyaksikan saudaranya teraniaya hanya karena beda negara, semakin membuat amarah ini menyesakkan dada. Sampai saat ini mereka pun tidak bergerak untuk menyelesaikan problem serius umat Islam dan membiarkan pembantaian umat muslim di India. Sikap acuh dan tak peduli terhadap krisis yang terjadi yang sejatinya menuntut solusi kebijakan militer untuk menolong saudara muslim.

Sungguh kini amat jelas terlihat bahwa umat muslim adalah korban nyata dari tindak radikalisme di belahan dunia, kaum muslim yang menjadi minoritas di negara tersebut akan merasakan penderitaan dan perlakuan semena-mena dari penduduk Hindustan hanya karena mempertahankan ke Islamannya.

Cueknya sikap yang ditunjukkan rezim saat ini membuat umat semakin tidak percaya akan rezim ini, pasalnya mereka terbukti represif terhadap umat Islam dan para penguasa hanya diam tanpa melakukan apapun untuk menghentikannya. Mereka tidak berani karena disinyalir akan membahayakan hubungan ekonomi mereka dengan India.

Inilah fakta kelemahan dan keterpurukan umat Islam akibat terpecah-belah ke dalam nation state, akibat sekat-sekat nasionalisme dan kepentingan barat yg berwatak kapitalisme. Tercermin dalam sikap bagaimana penguasa menjadi boneka di negeri-negeri muslim, dan semakin memperlihatkan bagaimana penguasa di negeri muslim justru bersahabat dengan negara represif terhadap umat Islam.

Seharusnya dari peristiwa tragis bumi Hindustan ini mampu menjadi perhatian kaum muslim. Tak hanya itu saja di belahan bumi lainnya kaum muslim selalu jadi korban kebrutalan rezim dan tirani. Sebut saja Muslim Uighur, Rohingnya, Kurdi, Suriah, Palestina, dan masih banyak kaum muslim di belahan dunia lain yang terus menerus ditindas.

Adapun di Indonesia yang notabene mayoritas penduduknya muslim, namun kaum muslim di negeri ini acapkali di fitnah, di persekusi, bahkan di kriminalisasi. Adanya isu radikalisme dan terorisme terus menerus digulirkan bahkan dijadikan agenda penting bagi rezim untuk memberantas kaum muslim yang menyuarakan syariat Islam.

Makna dari radikalisme dan terorisme pun seakan telah disematkan secara permanen terhadap umat Islam, bukan kepada umat lainnya. Maka dari itu, patut di duga bahwa rezim saat ini rezim yang anti terhadap umat Islam.

Ikatan nasionalisme yang diterapkan saat ini yang menghasilkan perpecahan sejatinya merupakan ikatan rusak, dan sangat berbeda dengan ikatan dalam ikatan Islam, yakni Ukhuwah Islamiyah. Ikatan Islam menjelaskan bahwa persaudaraan seakidah lebih kuat dari pada persaudaraan karena nasab. Sebab dalam Islam persaudaraan karena nasab bisa terputus karena perbedaan akidah, sementara persaudaraan karena akidah tak akan terputus selamanya sampai ke akhirat.

Sebagimana firman Allah SWT dalam kalam-Nya; “Kaum Mukmin itu sesungguhnya bersaudara”.( QS.al-Hujrat: 10)

Adapun sabda Rasulullah Saw; ” Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam”.( HR. Bukhari dan Muslim).

Kita bisa belajar dari seorang Khalifah al-Mu’tashim yang mendengar permintaan tolong seorang muslimah yang dilecehkan di kota Ammuriyah, Turki. Seketika itu ia menggelar pasukan yang panjangnya tidak terputus dari Ammuriyah sampai Baghdad untuk menaklukkan kota tersebut dan menolong muslimah itu. Inilah gambaran yang nyata dalam Islam menjadikan ikatan Ukhuwah Islamiyah.

Dari sini tergambar bahwa Islamlah satu-satunya ikatan yang sempurna dan menjamin kesejahteraan umat, melindungi umat yang terdzhalimi di berbagai belahan dunia.

Dengan demikian masihkah kita sebagai kaum muslim berdiam diri dan berpangku tangan sebagai penonton atas segala ketidakadilan dan kedzaliman bertubi-tubi yang dilakukan musuh-musuh Islam kepada saudara seakidah kita? Bukankah telah terinternalisasi dalam diri bahwa kaum muslimin seluruhnya adalah bersaudara, hakikatnya persoalan yang terjadi di dunia Islam adalah hilangnya persatuan di antara mereka sehingga dunia Islam saat ini butuh pemersatu, yaitu Khilafah Ala Manhaj Nubuwwah.
Wallahu a’lam bish-shab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *