Abai Antisipasi, Kasus Positif Semakin Tinggi

Oleh: Ummu Ihsan (Pendidik Ibu Rumah Tangga)

Pandemi Covid19 belum menunjukkan tanda-tanda yang menenangkan hati. Kasus di Indonesia pertanggal 9 Juli 2020 Jumlah pasien positif mencapai 68.079, sembuh 31.585 dan meninggal 3.359 (covid19.go.id). K.ondisi ini sangat memprihatinkan, dengan bertambah jumlah pasien positif yang semakin meningkat. Apa yang sebenarnya salah dari semua ini? Apakah masyarakat yang sudah tak perduli atau pemerintah yang abai antisipasi?

Dilansir dari Tribunnewsmaker.com edisi 8 Juli 2020 penambahan kasus harian tertinggi covid19 kembali terjadi di Indonesia. Kesimpulan itu diambil berdasarkan data yang diumumkan pada Rabu, 8/7/2020. Tercatat penambahan 1.853 positif. Angka tersebut merupakan jumlah kasus tertinggi sejak kasus pertama covid19.

Bertambahnya jumlah kasus positif saat ini, berbarengan dengan kebijakan pemerintah yang semakin melonggarkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan sudah semakin terbuka tempat-tempat umum. Seperti pusat perbelanjaan, transportasi , tempat wisata, serta tempat-tempat lainnya.

Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesai Iwan Ariawan menilai pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar PSBB) saat ini terlalu dini. “Kita ini kecepatan dilonggarkannya, sebetulnya terlalu cepat, Cuma saya juga tahu bahwa itu ada masalah ekonomi dan segala macam” ujar Iwan dalam diskusi daring Minggu 21/6/2020 (Kompas.com 21 Juni 2020)

Saat ini terkait protokol kesehatan memang sudah digencarkan oleh pemerintah di masa pelonggaran ini. Iklan-iklan marak menayangkan apa yang harus dilakukan jika hendak ke mall atau tempat lain, baik itu menggunakan masker, mencuci tangan dan menghindari kerumunan. Namun jika kita melihat angka yang saat ini terus bertambah, bukan sesuatu yang mustahil jika justru akan lebih tak terkendali penyebaran virus ini.

Alih-alih ingin memutus rantai penyebaran virus covid19 malah penambahan jumlah positif semakin banyak. Padahal dana yang dipergunakan oleh pemerintah untuk penanganan wabah ini cukup besar, anggaran belanja dan pembiayaan APBN 2020 untuk penanganan virus corona atau covid sebesar Rp 405, 1 Triliun (liputan6.com, Jakarta 31/03/2020) .

Belum lagi dengan jika kita menghitung sudah berapa ribu orang yang akhirnya harus kehilangan nyawa akibat pandemi ini. Yang lebih menyedihkan kala tenaga kesehatan pun ikut berguguran pada saat menangani wabah ini. Tingkat kematian tenaga kesehatan akibat infeksi virus corona disebut-sebut menjadi angka kematian tertinggi diantara negara Asia Tenggara bahkan dunia. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh wakil ketua Umum PB IDI Ikatan Dokter Indonesia, dr Adib Khumaidi, seperti dilansir ABC. (Gridhealth.id 26/6/2020)

Jika pemerintah akan tetap bersikeras semakin melonggarkan PSBB dari segala aspek. Bukan tidak mungkin pengorbanan yang telah dikeluarkan seolah akan sia-sia. Seharusnya ini yang dijadikan bahan pertimbangan karena memang penyebaran virus hanya dengan lockdown total. Pertanyaannya, akankah pemerintah mampu dan berani untuk melakukan ini, karena ketika itu ditetapkan akan ada konsekwensi untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang justru saat ini menjadi dasar ketidakberanian pemerintah.

Islam Punya Solusi

Kejadian wabah seperti ini pun pernah terjadi saat kepemimpinan Khalifah Umar. Saat itu yang dilakukan beliau adalah dengan melakukan lockdown total dengan mengunci area wabah. Apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar saat itu sebagaimana hadist Rosulullah “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid). Atas hal ini, sejak diketahui awal penyebarannya, diperlukan pengisolasian wilayah yang tekena wabah.

Terhadap yang sakit dilakukan dengan mengisolasi. Karena Rosul pernah bersabda seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhori: “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR. Imam Bukhari). “Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.” (HR. Abu Hurairah).

Bagi yang sudah terkena maka dilakukan pengobatan sampai sembuh sebagaimana yang telah diajarkan oleh suri tauladan kita Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Dawud dan Thabrani)

Dengan prinsip-prinsip tersebut, negara memiliki peran sentral. Negara akan menutup rapat jalannya impor, penularan lokal cepat teratasi, dan yang sakit segera sembuh. Dalam Islam,  negara menjalankan pelayanannya, menjamin pengobatan hingga sembuh dengan gratis, dan memaksimalkan sarana dan prasarana rumah sakit, berikut APD yang dibutuhkan. Para ahli klinis, virologi, dan epidemiologi membantu dari sisi sains. Dengan menetapkan titik area wabah, pengujian cepat dan akurat, lama waktu isolasi, serta jejak kontak dan pengobatan.

Karena Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan perhatian dan penghargaan tertinggi pada kesehatan dan keselamatan jiwa  manusia, melebihi aspek apapun termasuk ekonomi. Sebagaimana ditegaskan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassaalaam, yang artinya , “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasa’i).

Tindakan Khalifah Umar pada saat pandemi kala itu yaitu mengerahkan seluruh struktur dan perangkat Negara untuk membantu masyarakat yang terdampak. Para pejabat pun dengan sigapnya merespon hal tersebut, seperti yang dilakukan oleh Wali Mesir, Amr bin Ash.

Khalifah Umar melayangkan surat kepada wali Mesir, yang memerintahkan Amr bin Ash untuk mengirimkan pasokan makanan ke Madinah. Menanggapi surat tersebut Amr bin Ash menuliskan: “Saya akan mengirimkan unta-unta yang penuh muatan bahan makanan yang di kepalanya ada di hadapan Anda (di Madinah) dan ekornya masih di hadapan saya (Mesir), dan aku lagi mencari jalan untuk mengangkutnya dari laut.”

Itulah Islam yang mampu mengatur dalam segala aspek kehidupan. Dengan Islam akan melahirkan pemimpin yang tulus dalam mengurusi urusan rakyatnya. Lalu jika semua telah sempurna ada dalam Islam mengapa kita selalu membuat aturan yang justru lemah. Karena sifat manusia yang lemah dan terbatas. Diriwayatkan bahwa Muadz bin Jabal, saat diutus menjadi wali atau gubernur Yaman, ditanya oleh Rasulullah saw., “Dengan apa engkau memutuskan perkara?” Muadz menjawab, “Dengan Kitabullah.” Rasul saw. bertanya lagi, “Dengan apalagi jika engkau tidak mendapatinya (di dalam Al-Qur’an)?” Muadz menjawab, “Dengan Sunnah Rasululllah.” Rasul saw. bertanya sekali lagi, “Dengan apalagi jika engkau tidak mendapatinya (di dalam Al-Qur’an maupun as-Sunnah)?” Muadz menjawab, “Aku akan berijtihad.” Kemudian Rasulullah saw. berucap, “Segala pujian milik Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah ke jalan yang disukai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan al-Baihaqi).
Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *