3 Maret 1924: Awal Malapetaka Dunia Islam

Oleh: Azrina Fauziah (Aktivis Dakwah dan Member Komunitas Pena Langit)

Taukah engkau dengan tanggal 3 maret 1924? Bukan sekedar tanggal cantik masa kini. Bukan pula tanggal momen universeri, bukan pula hari ratapan patah hati. Semua begitu saja terjadi bak hujan yang tumpah ruah membasahi bumi. Peristiwa ini tak begitu sederhana terjadi namun karna sebuah upaya bertahun-tahun lamanya sehinggaberakumulasi. Pernahkan engkau kawan bermimpi panjang tentang awal malapetaka dunia islam?

Waktu itu sempat bermalam di perpustakaan Istana Dolmabahce, Istanbul. Seorang laki-laki , ia tengah syahdu dan khusyu membaca al Qur’an. Ia tak lain adalah Khalifah ke-37 dalam pemerintahan utsmani. Khalifah Abdul Majid II naik tahta setelah saudara sepupunya Sultan Mehmed VI dibuang ke Malta. Pada masa Khalifah sebelumnya, kesultanannya dicopot dan dihapuskalah kesultanan utsmani. Semenjak itu bergantilah Daulah Islam dengan nasional state yang saat itu memisahkan dunia islam menjadi 50 negara bagian termasuk Turki yang medeklarasikan dirinya sebagai Negara Republik.

Pada saat itu kepemimpinan wangsa utsmani resmi dicabut tetapi jabatan khalifah masih dipertahankan. Namun Abdul Majid II hanya dijadikan sebagai symbol pemimpin agama saja dan tak lagi bergelar sultan utsmani.

Alih-alih sikap kemunafikan Mustofa Kemal Attaturk kepada Turki justru ia telah mendapatkan dukungan serta persetujuan sekutu Inggris dalam mengambil kekuasaan di dalam negeri tersebut. Dengan resmi kepemimpinan Turki diambil alih olehnya. Kepemimpinan Khalifah Abdul Majid II semakin termarjinalkan. Suatu ketika ia pernah memakai sorban leluhurnya Muhammad Al Fatih dan membawa pedang Sulaiman Al Qonuni di tengah publik. Namun sikapnya tadi membuat Mustafa Kemal geram dan berupaya menyingkirkannya dari public rakyat Turki. Puncaknya ialah ketika tentara muda dikirimkannya untuk membawa sepucuk surat untuk Khalifah Abdul Majid II.

Surat itu berisikan bahwa Khilafah Utsmaniyah dihapuskan dan Abdul Majid II diperintahkan untuk pergi dari negerinya sendiri. Awalnya Khalifah menolak namun apalah dayanya, keputusan surat itu bahkan telah diputuskan sah oleh Majelis Nasional. Esoknya setelah pengesahan di pagi yang buta sebelum fajar menyingsing ia pun bergegas pergi beserta keluarga menuju tempat pengasingan. Khalifah terakhir Daulah Islamiyah ini pun akhirnya diasingkan ke Swiss bersama keluarganya.

Semenjak itu Turki semakin menjadi Negara sekuler. Dimana penduduknya tak diperbolehkan menggunakan symbol-simbol agama dalam kehidupan mereka bahka untuk adzan saja mereka menggunakan bahasa turki ketika waktu sholat tiba. Na’udzubillah

Inilah awal malapetakan dunia islam mulai terjadi. Mustafa Kemal bukan hanya sekedar menginginkan nilai-nilai agama tersisihkan namun justru jauh lebih besar. mereka inginkan adalah memadamkan agama Allah selama-lamanya.

Khilafah islam pada masa itu hadir untuk menjadi garda terdepan dalam menerapkan islam, menjalankan hukum-hukum Allah dan menyebarluaskan dakwah islam ke seluruh dunia. Ia ibarat penerang umat dalam kegelapan, penyejuk umat di kala kehausan dan benteng pelindung kaum muslim dan ia penjaga umat seluruh alam.

Namun kini ia telah tiada, beginilah ketertindasan dan nelangsa umat islam diseluruh dunia. Kita tak lupa atas yang terjadi pada umat islam di Palestina, Suriah, Myanmar, Pattani, Ugyur, India dan masih banyak lagi. Mereka kini tengah diintimidasi, ditindas, disiksa dan berbagai tindakan tidak menyenangkan dilayangkan mereka sebab keislaman mereka. Mereka butuh pelindung, butuh perisai, butuh adanya pemimpin islam yang darinya umat dapat berlindung dari serangan musuh.

Sudah cukup 96 tahun nelangsa atas diterapkannya sistem Kapitalisme Sekuler diterapkan paksa kepada kaum muslim, sudah cukup kehancuran yang hampir 1 abad dihasilkan oleh kapitalis menghasilkan ekonomi yang tidak stabil, hutang yang menumpuk, SDA dan aset Negara pun digandaikan kepada asing, moral yang semakin rusak dan HAM yang menjadi standar ganda kaum kafir kepada muslim.

Episode kelam dalam sejarah ini bukan sekedar untuk ditangisi dan diratapi. melainkan diambil ibrah dan pelajaran suapaya umat islam memahami apa factor utama penyebab keruntuhan dan kejayaannya pada masa lalu.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”.(QS. Yusuf:111)

Menjadi motivasi dan lecutan besar bagi kaum muslim bahwa adanya pemimpin islam dalam lingkup Khilafah islam merupakan kebutuhan dan kewajiban umat islam hari ini untuk segera diwujudkannya.

“Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, Beliau diam,” (HR. Imam Ahmad).

Wallahu’allam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *